Tampilkan postingan dengan label pengembangan masyarakat islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengembangan masyarakat islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2018

Mahasiswa Tingkat Akhir - Kisah Pamungkas

Assalamualaikum

Met pageeh! Senin paginya semangat?
Harus semangat karena Sarah juga semangat nih buat nyapa kalian. Ceileh!

Pagi ini Sarah kasih sarapan tulisannya dari pengalaman Sarah aja ya. Tulisan ini ngedraft di otak Sarah sejak bulan Juli lalu. Setelah berabad-abad juga tidak ada pembaharuan tulisan, akhirnya ya kan yang ditunggu-tunggu ada lagi. Kangen pasti kan sama tulisan-tulisan Sarah?

Kangen aja dong, biar tau rasanya ada yang ngangenin. Walaupun tulisan-tulisannya doang yang dikangenin hahaha.

Dikiriman tulisan Sarah hari ini, Sarah mau cerita aja pengalaman “REVISI KELAR DALAM WAKTU SEBULAN”. Gak sebulan juga sih, karena kepotong sama libur lebaran. Buat yang penasaran cerita pas sidang Sarah kaya gimana sensasinya, nyusul ya. Atau yang terlanjur penasaran banget, bisa cek twitter aja. Di twitter udah Sarah pin kok tweetnya, jadi rekan-rekan pembaca gak perlu ngescroll lagi nyari tweetnya.


visit twitter @saraphaaan

- - - - - - -

Buat yang belum tau, Sarah lulus sidang skripsi atau sidang akhir, sidang munaqosah disebutnya kalau di kampus UIN, itu tanggal 06 Juni 2018. Selepas keadaan tanpa status mahasiswa, tapi semangat-semangat mahasiswanya masih nyisa, Sarah gak tenang tuh buat nyantai-nyantai gak ngerjain jurnal. Karena gimana ya, kata yang udah-udah, persyaratan jurnal agak ribet. Padahal nih kalau rekan-rekan pembaca mau tau, jurnal itu tuh isinya dari skripsi mahasiswa yang disalin ulang jadi bentuk jurnal. Kenapa ribet?

Karena banyak aturannya. Harus A, B, C, dan seterusnya. Kalau mau tau contoh templatenya ada nih, visit langsung jurnal dakwah, ini link jurnal dakwah UIN Bandung. Setelah visit, rekan-rekan pembaca bisa download ya templatenya; yang ada di sebalah kanan agak ke bawah dikit posisinya.

- - - - - - -

Bentar, bentar. Bingung Sarah, ini ceritanya meleleh kemana-mana. Langsung loncat aja ya ke hari para ASN (aparatur sipil negara) mulai masuk kerja lagi setelah libur lebaran. Kenapa loncatnya ke hari itu?

Karena dosen mulai aktif lagi di kampus pas hari itu.

Sekarang selesaiin dulu cerita revisian dah, biar Sarah beres satu-satu gitu cerita pengalaman yang terlanjur padat di otak dan susah dicairkan jadi duit, eh tulisan harusnya. Mulai yuk!

- - - - - - -

Senin, 25 Juni 2018.
Pagi itu, berangkat naik kereta dari rumah dengan sendal jepit merah karena hujan dan sampai di Bandung jam dua siang. Hari itu gak ada rencana buat revisian ke dosen penguji dua. Tapi berhubung udah gak kuat pengen cepat selesai revisiannya, langsung pindahin data dari laptop ke flashdisk, jalan dah tuh ke kampus sambil lirik kanan kiri nyari tempat fotocopy-an biar bisa ngeprint revisian. Eh cyin, tempat fotocopy masih pada tutup. Mau tau alasannya kenapa?

Karena masih suasana lebaran, ditambah karena lagi libur kuliah semester genap, ditambah karena dua hari lagi ada pilkada serentak.

Sedih akutu. Tapi tenang, Sarah berhasil ngeprint pokoknya siang itu. Selesai ngeprint, meluncur ke ruang dosen penguji dua. Ada dong dosennya, tapi ternyata lagi sibuk. Ada lima menit Sarah diam tuh sambil duduk depan meja kerja beliau dan akhirnya angkat bicara deh bapaknya, “Besok aja ya, jam sembilan-an”.

Yowes, Sarah pamit dengan senyuman. Ceileh! Hahaha.


Selasa, 26 Juni 2018.
Dengan semangat revisian yang ada, Sarah ke kampus jam delapan pagi. Jalan kaki santai dan sampai di kampus jam delapan lewat dua puluh. Tau gak?

Pas sampai di kampus, dosen pada melangkahkan kakinya ke aula utama. Ternyata, usut punya usut, hari itu dosen-dosen pada halal bihalal sama rektor. Hem.

Sebagai makhluk yang gemar menunggu dan enggan membuat orang lain menunggu, karena emang Sarah yang butuh, jadi ya ditunggu aja dosen penguji dua kembali ke ruangannya.

Lima menit menunggu.

Lima belas menit menunggu.

Tiga puluh lima menit menunggu.

Enam puluh lima menit menunggu.

Perut mulai bunyi.

Mulai bosan.

Tapi tetap menunggu.

Dan, setelah sembilan puluh menit menunggu.

Bapak dosen penguji dua datang, masuk ruangannya, tapi ngobrol dulu sama dosen lain. Masih di pantau tuh dari luar ruangan lewat jendela yang ada, curi-curi langkah siapa tau bapaknya langsung kabur lagi keluar ruangannya. Eh benar aja, bapak udah mulai melangkah ke pintu keluar, Sarah nyamperin deh ngasih senyum duluan.

“Eh neng, iya ayo sini”, bapaknya langsung putar langkah ke arah meja kerjanya. Setelah dipersilahkan duduk dan basa basi dikit, bapaknya nanya, “Yang mana ini yang direvisi?”.

Sarah tunjuk di kertas revisian, “Poin ini, sama poin ini pak”.

Hening. Bapaknya baca dulu hasil revisian.

“Oke”, bapaknya bolak balik isi skripsi Sarah yang udah di revisi. Karena bapaknya diam aja, takut dong, takut revisiannya masih ada yang salah. “Ini bapak tanda tangan dimana ya?”, tiba-tiba bengong pas bapaknya nanya itu.


Refleks lah ngeluarin kertas jeruk, atau kertas yang kasar gitu permukaanya. Kenapa sih harus kertas tersebut?

Karena kertas itu dipakai buat lembar pengesahan yang isinya tanda tangan penguji, sekaligus dipakai juga buat lembar persetujuan yang isinya tanda tangan pembimbing dan ketua jurusan.

Dan, langsung bapaknya tanda tangan disitu. Rangkap enam, karena Sarah ngebundel skripsinya jadi enam rangkap. Selesai revisian, selanjutnya?


Kamis, 28 Juni 2018
Langsung di tanggal ini, karena di hari Rabu itu hari Sarah merayakan kemalasan. Gogoleran gemay (read: tidur-tiduran gemas) di kosan. Kaya gimana tidur-tiduran gemas?

Ya tidur-tiduran biasa, ditambah Sarahnya yang gemay hahaha.

Nah di hari itu, mulai lah pergulatan dengan bundelan skripsi (bentuk skripsi yang sudah selesai dijilid). Berangkat ke tempat fotocopy dah tuh. Di tempat fotocopy yang pertama kali ditanya, “Bang bisa sehari beres gak?”. Dan abangnya menyanggupi. Kenapa sih nanya itu?

Biar semua cepat kelar. Terus, biar bisa cepat selesai juga ngumpulin persyaratan nebus ijazah ke bagian tata usaha fakultas. Kalau ngebundel aja berhari-hari, bisa keburu kendor semangat Sarah buat revisian.

Oh iya, syarat nebus ijazah gak cuma ngebundel skripsi. Ada tambahan nge-burning skripsi ke CD. Dan inget, BUNDEL SAMA BURNING-nya sesuai kebutuhan.

Contoh di persyaratan nebus ijazah, untuk pembimbing itu dapat satu bundel skripsi ternyata pembimbing minta skripsinya di flashdisk aja. Contoh lain, di persyaratan nebus ijazah, penguji itu gak dapat bundelan maupun burning skripsi mahasiswa tapi ternyata ada beberapa penguji yang minta file skripsi mahasiswanya untuk di-burning dan diberikan padanya. Dua aja ya contohnya, biar gak lama ngebahas ini, keburu bosen woy bahas ini doang. Iya gak sih?

Selesai nego, selesai kumpulin yang perlu dibundel dan di-burning, pokoknya selesai urusan sama abang-abang fotocopy yang mau ngebundel dan nge-burning skripsi Sarah. Marilah dirayakan dengan makan mie goreng dan minum teh hangat di kantin.

- - - - - - -

Note.
File yang perlu dibundel dan diburning itu sebenernya gak beda jauh isinya. Kurang lebih kaya gini ya

tampilan nama file yang mau di-burning


Untuk bagian lampiran, bebas ya mau ngelampirin apa aja. Bebas tapi sesuai dengan hasil penelitian di skripsi rekan-rekan pembaca. Untuk urutan lampirannya juga bebas, dibikin enaknya aja gimana; enak buat dibaca orang lain maksudnya. Kenapa filenya dibikin pdf?

Ya pengen aja hahaha. Karena gak ada aturan juga sih file yang di-burning ke CD itu harus format apa, jadi inisiatif bikin format PDF.

Oh iya tambahan, kalau untuk bundelan, Sarah ngelampirin juga lembar bimbingan, lembar SK skripsi dan lembar surat izin observasi.


Jumat, 29 Juni 2018
Selesai ngambil bundelan di tempat fotocopy, mampir sebentar ke kampus coba cari dosen penguji satu. Masuk fakultas, gak sengaja ketemu dosen penanggungjawab jurnal buat pastiin lagi kalau hari Senin jadi penyerahan draft jurnal, dan dosen menyanggupi. Karena dosen penguji satu gak ada juga, Sarah pulang ke kosan.

Dilanjut ngerjain jurnal bareng Sasa di Lekker 88. Tempatnya kejangkau sama transportasi umum dan rekomendasi buat nugas kalau bosen nugas di daerah Cibiru dan sekitarnya. Gak banyak yang perlu diceritain, intinya berusaha ngeberesin jurnal tapi ternyata malah banyak ngobrolnya karena kangen. Cie! Hahaha.

Oh iya, jurnal juga jadi salah syarat buat nebus ijazah ya.


Senin, 02 Juli 2018
Hari penyerahan draft jurnal bagi yang sudah mengikuti sidang skripsi. Siapa yang nentuin harinya?
Dosen penanggungjawab jurnal (bapak dosen A).

Datang tuh Sarah, Sasa, dan teman-teman lainnya ke depan ruang jurnal (ruang fakultas lantai empat) sesuai hari dan tanggal yang sudah dijanjikan. Sampai disana coba buka pintu, ternyata ruang jurnal di kunci. Bete dong.

Ngontak dosen yang bersangkutan. Ternyata dialihkan ke dosen lain yang juga bertanggungjawab terkait jurnal dakwah (bapak dosen B). Lanjut ngontak bapak dosen B yang jadi penanggungjawab jurnal, jawaban beliau, “Sedang tidak di kampus”. Lapor lagi ke bapak dosen A yang menjanjikan penyerahan jurnal di hari itu, mau tau gak jawaban dosennya apa?

Gini nih . . .

“Diundur besok lagi aja ya. Gak ngasih tau, jadi tidak saya agendakan”

Bete maksimal dong. Bukan cuma karena dosennya gak ada, tapi bete karena Sarah gak bisa tanggungjawab sama info yang udah Sarah sebar ke teman-teman angkatan.

Drama ya kan di akhir-akhir kehidupan dunia perkampusan.


Selasa, 03 Juli 2018
Ke kampus pagi-pagi mau nyamperin dosen pembimbing dua dan dosen pembimbing satu buat tanda tangan di lembar persetujuan skripsi. Karena di hari sebelumnya (tanggal 02 Juli 2018), Sarah udah kontak kedua dosen pembimbing, jadi tanda tangan di tanggal 03 Juli 2018 berjalan sesuai rencana. Gak ada lagi drama dosennya lagi gak di kampus.

Selesai minta tanda tangan dosen pembimbing, balik dulu ke kosan. Siang-siang jam setengah dua, Sarah ke kampus lagi mengusahakan penyerahan draft jurnal biar bisa cepat nebus ijazah. Dosen penanggungjawab jurnal (bapak dosen B) sekarang ada diruangannya dong. Ngantri tuh periksa draft jurnal sama teman-teman yang lain.

Draft jurnal diserahin. Bapak dosen B periksa draft jurnal Sarah. Ruangan jurnal ramai sama yang pada mau ngumpulin jurnal. Sarah degdegan nunggu hasil draft jurnal diperiksa.

Akhirnya bapak dosen B mengeluarkan suaranya, “Ini sumber darimana?”

Sarah jawab, “Ada di laporan pertanggungjawaban kegiatan diklat”

“Terus kenapa gak dicantumin disini?”, nunjuk satu poin draft jurnal Sarah.

“Terus ini juga sama?”, nunjuk satu poin lagi di draft jurnal Sarah.

Sarah ngangguk.

“Dicantumin dulu sumbernya. Setelah di revisi, langsung burning, kasih saya”.

Sambil edisi gemeteran, “Oh iya pak, makasih”.

Perintah pak dosen bikin gak nyangka. Dengan sekali revisi jurnal, bisa langsung dikumpulin. Padahal dengar dari cerita orang, ada yang tiga sampai empat kali revisian baru boleh dikumpulin.
Alhamdulillah, langsung dirayakan lah dengan beli Richeese via grab. Ngerayain sama siapa?

Ya sendiri.

Kalau rame-rame, gak ada duit buat bayarinnya:((

- - - - - - - 

Note.
Untuk penulisan jurnal sampai tahap penyerahan jurnal, kurang lebih gini prosesnya:
Download dulu file-file ini
Selesai download semuanya, coba ikut pelatihan jurnal ya. Karena secara menyeluruh dijelasin pas pelatihan jurnal. Jangan otodidak kalau emang gak ada pengalaman bikin jurnal. Sarah belum sanggup kalau harus jelasin semuanya di blog, kecuali secara personal, mudah-mudahan bisa bantu.

Seandainya udah download file-file itu, udah ikut pelatihan jurnal, dan udah mengikuti sidang skripsi, coba dikerjainnya pakai cara mencicil. Misalkan hari ini selesai dulu bagian judul sampai abstrak, besoknya bab satu selesaikan, lusanya bab dua selesaikan, begitu seterusnya sampai beres keseluruhan isi jurnal.

Bagian daftar pustaka biar gak lupa pakai referensi apa saja di isi jurnalnya, sambil copy paste isi skripsi ke jurnal, sambil dicatat juga di kertas keterangan referensinya. Atau contoh, setelah copy paste bab satu skripsi ke jurnal yang pakai referensi dari buku, lanjut copy paste juga daftar pustakanya ke bagian daftar pustaka file jurnal. Bingung gak?

Sarah bingung gimana jelasin yang baiknya. Belibet sendiri nulis caranya. Pokoknya kaya gitu dah.


Rabu, 04 Juli 2018
Dipertengahan malam menuju pagi, Sarah nyiapin file skripsi yang mau di upload ke Digital Library (digilib) UIN Bandung. Buat upload file juga butuh syarat ya. Nah ini download syarat digilib UIN Bandung.

Gunanya apa sih upload file ke digilib?

Hem, apa ya?

File skripsi bisa diakses via online sama adik-adik tingkat atau mungkin orang lain yang pengen tau skripsi jurusan Pengembangan Masyarakat Islam itu kaya gimana isinya.

Uploadnya bisa mandiri atau nebeng sama temen. Nebeng dosen juga boleh sih, kalau dosennya ngasih tebengan hahaha.

Selesai urusan upload file skripsi sesuai persyaratan, pagi-paginya sekitar jam 08.30 WIB, Sarah langsung ke fakultas. Ngapain?

Nyari dosen penguji satu sekaligus merangkap ketua jurusan, buat tanda tangan segala keperluan tanda tangan yang ada di skripsi Sarah. Untuk yang satu ini, Sarah gak ngontak dosennya ya. Karena ya begitu, lebih cepat pakai jurus langsung samperin keruangannya aja.

Dan cilukba! Bapak dosen penguji satu belum ada diruangannya. Berhubung ingin gerak cepet, Sarah inisiatif aja kabur ke ruang perpustakaan fakultas. Ngapain?

Ngumpulin bundelan skripsi dan CD yang isinya file skripsi. Selesai dikumpulin, inget ya minta tanda tangan dosen yang bertanggungjawab di perpustakaan fakultas. Oh iya, bawa buku juga ya buat diwakafin di perpustakaan fakultas. Tapi sebelum ngumpulin buku, ditanya dulu perlunya buku yang berkaitan dengan metodologi penelitian, berkaitan dengan jurusan, atau berkaitan dengan hal lain. Nanya ke siapa, Sar?

Nanya ke dosen yang bertanggungjawab di perpustakaan fakultas biar dapat kepastian harus wakafin buku yang seperti apa. Kalau udah wakafin buku, nanti dikasih surat keterangan pertama yang bisa dituker sama ijazah.

Selesai urusan di perpustakaan fakultas, lanjut dulu aja ke fakultas universitas. Masuk jam 09.00 WIB, hari itu Bandung cerah.

Hal pertama yang dilakuin yaitu ngisi daftar hadir pengunjung perpustakaan dengan cara scan kartu anggota perpustakaan. Selanjutnya, masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri dari arah pintu masuk. Disitu ngapain?

Ngecek kelengkapan file yang udah di upload ke digilib. Di cek bareng sama petugas perpustakaan universitas ya, kalau udah lolos dari pengecekan bakal dilanjut ke lantai dua buat penyerahan bundelan skripsi. Tiba di lantai dua, ke meja pengembalian buku, bilang aja, "mau nyerahin bundelan skripsi". Kalau udah bilang gitu, nanti ada intruksi lagi ke ruang barcode sekaligus dikasih kelengkapan surat keterangan buat nebus ijazah.

Surat keterangan dari perpustakaan universitas bakal di kasih kalau rekan-rekan pembaca gak ada hutang. Kenapa bisa ada hutang? Karena telat balikin peminjaman buku, ya walaupun kadang yang pinjamnya bukan diri sendiri.

Dapat tuh surat keterangan tambahan, langsung balik aja ke meja pengembalian buku. Disitu rekan-rekan pembaca diintruksikan untuk ngisi data dan bayar infaq Rp 20.000,-.

Inget minta tanda tangan petugas yang bertanggungjawab di perpustakaan universitas.

Cape gak sih baca kegiatan di tanggal 04 Juli ini? Sarah aja cape ngejelasinnya, gerak cepetnya bener-bener kagak boleh di kasih kendor!

Lanjut yaaa~

Di jam 10.00 WIB, Sarah balik lagi ke fakultas berusaha menemukan dosen penguji pertama. Abrakadabra!

Dosen penguji satu udah ada diruangannya. Ngobrol-ngobrol sedikit dan lupa ngobrolin apa, dapat tanda tangannya, selesai sudah ngurus revisian skripsi sekaligus mengumpulkan persyaratan buat dapat ijazah.

Balik ke kosan dari jam 10.30 WIB sampai jam 14.00 WIB buat bermalas-malasan di kasur.

 - - - - - - -

Siang menuju sore hari itu, Sarah balik ke kampus buat nyerahin jurnal. Simsalabim!

Jurnal selesai dikumpulin. Inget minta tanda tangan dosen penanggungjawab jurnal ya biar lengkap tuh lembar penebusan ijazah.

Dengan percaya dirinya langsung ke ruang tata usaha buat ngambil ijazah, gak taunya, "Neng, sidang bulan apa?"

"Juni, pak", jawab Sarah.

Bapaknya langsung respon, "Oh yang Juni mah belum ada. Belum di tanda tangan pak dekan. Kan bapak dekannya mau haji dulu".

- - - - - - -

Setelah drama pak dekan mau haji, Sarah nunggu ijazah sampai ada. Dan tau gak, ijazah Sarah baru ada bulan September setelah wisuda.

OK! No prob! Sekarang tinggal lihat aja, ijazah Sarah bisa nganter Sarah ke pekerjaan seperti apa?

Semoga sesuai yang selama ini diimpikan sih ya, semogaaaaaaa~

- - - - - - -

Sekian dan terima kasih. Sekiranya terlalu banyak yang masih perlu dipertanyakan, kolom komentar postingan ini aktif kok. Mohon maaf kalau dipertengahan sampai akhir cerita kurang greget, Sarah bingung sendiri sama cerita Sarah.

See you!
Wassalamualaikum

Kamis, 25 Mei 2017

Praktik Lapangan Terpadu 2017 - Chapter 5

Assalamualaikum

Selamat tengah malam rekan pembaca. Cuma mengingatkan, kalian boleh kok baca ini tengah malam langsung, asal gak sambil di tengah jalan bacanya. Ceritanya mau ngelucu, tapi kagak lucu ya? Yaudah dah.

Daripada gagal lucu berkelanjutan, mending Sarah bercerita PLT berkelanjutan. Boleh?

Boleh aja ya, kan kalau cerita ditulisin gini mengurangi resiko stres buat Sarah. Iya tau Sarah punya salah karena telat ngeposting ini, maafin boleh?

Boleh dong, seenggaknya kasih kesempatan Sarah menebus kesalahan dengan bercerita. Sepakat yayayaaa? 

Berhubung yang mau diceritain hanya berkisar tiga hari, tapi berkesan. Biasa, di waktu-waktu mau perpisahan jadi kesan hidup menjadi masyarakat di Kampung Cikoneng 2 makin terasa. Ada rasa bahagia bisa hidup bersama bahkan diterima dengan suka cita oleh masyarakat disana. Ada pula rasa gak rela, yap gak rela melepas kebahagiaan yang ada disana meskipun gak betah di minggu-minggu awal.

Jumat pagi tanggal 19 Mei 2017, rutinitas posko seperti biasa. Yang piket ya piket, yang ngajar ya ngajar, yang males-malesan ya pada pulang ke rumah atau kosan masing-masing. Sarah ngapain hayo? Sarah kebagian ngajar RA sampai jam 10.00 WIB.

Selesai ngajar, Sarah sibuk dengan hadiah yang akan dibagikan kepada anak-anak madrasah yang mengikuti lomba. Mulai dari beli sampai ngebungkusnya jadi kado. Lelah, sudah pasti.

Anggota yang lain sibuk apa? Beberapa melanjutkan persiapan lomba yang dilaksanakan ba'da Jumatan dan beberapa yang lainnya mempersiapkan untuk penampilan dan dekorasi di penutupan yang dilaksanakan esok hari.

Alhamdulillah lomba pendidikan ba'da Jumatan berjalan lancar dan sukses meskipun gak sesuai jadwal, agak molor dikit lah ya waktunya. Tapi tenang, hasil jepretnya ada kok. Nih lihat-lihat ulud (baca: dulu) kak!;)



Dua aja cukup kan? Kalau banyak-banyak nanti takut sayang; sayang kuota dikit lagi soalnya udah mau habis hahaha.

Selanjutnya rutinitas Jumat malam yaitu pengajian di rumah Pak Ustadz Ikin, suami Bu Entin. Sebelum pengajian mulai, kami ikut serta mempersiapkan jamuan untuk jama'ah pengajian. Ya kami, tujuh wanita yang memang lebih produktif dari laki-lakinya.

Meskipun awalnya sengaja dibagi dua agar bagian satu ikut pengajian dan bagian lainnya ikut rapat dengan karang taruna. Namun sayang, sepertinya ada rasa kurang tanggungjawab pada diri anggota yang lain hingga menyebabkan rapat karang taruna gak dihadiri oleh mahasiswa. Hoax, Sar? Gak, itu fakta ya walaupun keliatan jeleknya kan kelompok Sarah. Ketawain aja dah yuk, hahaha!

Lanjut ke Sabtu pagi, Sarah piket. Selesai beresin posko Sarah lanjut ke lapangan tempat lomba ketangkasan dilaksanakan. Hasil jepretnya? Ini ada kok!



Banyak video sih sebenarnya, cuma gimana ya? Buat upload video kuotanya terbatas, akhir bulan gini amat dah.

Langsung lanjut ke acara malam, acara puncak penutupan PLT. Kalau sekarang, Sarah kasih foto-foto aja ya. Sudah mulai lelah bercerita. Butuh kasur dan tidur.







Sama kaya lomba-lomba ketangkasan, acara penutupan penuh sama video. Enaknya sih Sarah edit dulu videonya, tapi apa daya, belum bisa edit video meskipun keinginan edit udah membengkak.

Selanjutnya di hari Minggu pagi, acara pamitan sama masyarakat. Sedih gimana gitu mau ninggalin masyarakat Kampung Cikoneng 2. Tapi tenang, masalah silaturahmi tetap terjalin loh! Oh iya cerita sedikit lagi ah.

Ketika anggota lain pamitan sama Bu Entin dan keluarganya, Sarah sama Irma malah semangat nyari singkong buat oleh-oleh. Niat mau beli, eh malah dikasih. Alhamdulillah.

Karena penasaran, Sarah sama Irma nyangkul sendiri buat ngambil singkongnya. Tolong gak salah paham ya, singkongnya diambil setelah izin ke Pak Karna, yang punya kebun singkong. Kalau cangkulnya, pinjam ke Pak Ustadz Ikin yang kebetulan lagi bawa cangkul untuk mengaduk pasir dan semen membangun rumah yang didanai anak pertamanya.

Tau rasanya nyangkul gak hayo? Asik loh! Tapi cape juga sih, harus punya semangat lebih buat nyangkul. Kamu mau nyemangatin Sarah nyangkul? Hahaha.

Dan ternyata lagi asik-asiknya nyangkul Pak Karna datang membawa alat untuk ngambil singkong dan kardus bekas. Setelah itu Pak Karna mengajak Sarah dan Irma ke kebun yang agak ke bawah. Luar biasa, singkong disana gede-gede karena memang usianya sudah sampai setahun. Butuh foto? Ada dong!



Itu sih cuma dikit. Yang sekardusnya udah dibawain sama Pak Karna. Gak cuma di kardus, karena singkongnya dibagi-bagi juga ke yang lain, Sarah malah kebagian bawa singkong di karung. Endingnya, berasa mudik di motor bawa kardus sama karung. Motor Irma, kalau Sarah bagian nebeng hahaha.

Cukup ya ceritanya. Cukup juga kayanya kisah tentang PLT 2017. Terima kasih sudah membaca, terima kasih sudah bersedia menanti, ditunggu kritik dan sarannya.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi rekan pembaca yang beragama Islam. Dan selamat tidur, semoga nyenyak meskipun waktu tidurnya hanya sekedar menutup mata sesaat.

Wassalamualaikum

Kamis, 18 Mei 2017

Praktik Lapangan Terpadu 2017 - Chapter 4

Assalamualaikum

Selamat hari Kamis, yap karena hari Rabu jaringan Loop gak ada makanya Sarah baru update hari ini. Sekali lagi, mohon maaf ya. Maaf jika membuat rekan pembaca terlalu lama menunggu postingan ini. Yaaa siapa tau jadi ada yang kangen Sarah gitu gara-gara kelamaan nunggu Sarah update postingan. Ups hahaha.

Apa kabar? Baik-baik aja dong pastinya. Kalau emang lagi kurang sehat, semoga lekas sehat, Sarah cuma bisa mendokan yang terbaik untuk kesembuhan rekan pembaca. Kalau kabar Sarah, Alhamdulillah baik. Gak nanya ya? Yaudah iya dah, maaf tiba-tiba bilang kabar padahal kagak ada yang nanya.

Hari ini, masih gak ada hujan kalau dari langit. Yang ada cuma hujan dari mata. Nangis, Sar? Gak nangis, cuma netes aja. Bukan karena gak betah, kali ini karena semakin dekat dengan kata pisah. Yap, hari berpisah dengan masyarakat Cikoneng 2 yang baiknya luar biasa ketika kedatangan mahasiswa seperti Sarah dan kawan-kawan Sarah.

Terutama masyarakat yang emang terlanjur sangat dekat dengan mahasiswa. Karena kedekatan itu juga yang memudahkan komunikasi untuk menjalankan siklus PLT. Meskipun rintangan dan kesulitan datang silih berganti, ternyata waktu sebulan memang sangat kurang untuk menyempurnakan kegiatan PLT dengan siklus.

Postingan ini Sarah mau cerita lagi ya. Menceritakan keakraban Sarah dengan tokoh wanita di Kampung Cikoneng 2 dan anak-anaknya. Seperti dipostingan sebelumnya, Bu Entin masih mendominasi keseharian kami, para mahasiswa. Selain sebagai tokoh wanita, Bu Entin sanggup membimbing kami bermasyarakat di Kampung Cikoneng 2.

Kegiatan yang dilakukan minggu kemarin di tanggal merah yakni melakukan perjalanan wisata dan makan bareng. Perjalanan dari tangga seribu yang dilanjut menuju batu kuda. Ya Kampung Cikoneng, dengan kehidupan masyarakat yang sederhana namun kaya dengan wisata.

Perjalanan dimulai jam 8 pagi, sampai di tangga seribu kurang lebih jam setengah 9 dilalui dengan berjalan kaki. Jam 9 tiba di tangga seribu langsung dilanjut dengan makan bersama, kata orang-orang Sunda sih disebutnya Botram. Selesai makan jam 10 kurang 15 menit, dilanjutkan berfoto bersama. Fotonya menyusul ya, nyelip di dokumen, Sarahnya ngantuk jadi rada males mencarinya. Maafkan.

Selesai foto, perjalanan dari tangga seribu menuju batu kuda dimulai. Kurang lebih jam 10.20 kami rombongan dari Cikoneng 2 tiba di batu kuda. Yey! Cape, kotor, tapi bahagia. Kalau kebahagiaan di batu kuda, insyaAllah menyusul ya videonya. Sinyal kurang mendukung nih buat upload. Selesai menghilangkan penat diteduhnya pohon pinus batu kuda, kami kembali menuju posko dan tiba jam 11 lebih, mendekati waktu Dzuhur.

Kamis kemarin, menjadi hari paling padat diantara Kamis sebelumnya dan tentu Kamis hari ini. Tamu sana sini datang ke posko. Kegiatan sampe malam tak henti. Ditambah melaksanakan pengenalan pembuatan bolu singkong bersama ibu-ibu di Kampung Cikoneng 2 yang juga didampingi oleh Bu Ami, sebagai ibu RW. Menguras tenaga dan pikiran, tapi Alhamdulillah selalu ada kesehatan mengiringi diri Sarah dan teman-teman mahasiswa disini, di posko kelompok 3.

Pembuatan bolu singkong berlanjut di hari Jum'at dan bahkan di hari Selasa kemarin juga ada. Selebihnya, kegiatan mulai berfokus untuk penutupan. Apalagi bendahara, pusying sama uang. Kasian tah yang jadi bendahara, hem.

Ada pula kegiatan pembuatan peta sosial. Peta ini berguna untuk pemberian titik dimana pusat pendidikan, pusat keagamaan dan lain sebagainya. Kegiatan pemetaan sosial masih tetap dibantu oleh Bu Entin.

Selesai dulu ya ceritanya. Kasian rekan pembaca, baca cerita Sarahnya agak gak nyambung, diksinya gak greget dan pokoknya yang minus-minus lah. Ya gini Sarah, kalau ngelakuin sesuatu gak sesuai jadwalnya jadi males-malesan juga ngejalaninnya. Bisa beres sampe salam di akhir juga, daebak! Cerita selanjutnya mudah-mudahan bisa dilanjut di hari Rabu depan ya.

Selamat berakhir pekan rekan pembaca, semoga menyenangkan akhir pekannya. Bantu doa dan semangatnya dong buat Sarah yang lagi pusing sama penutupan, ya pusing lah dengan beberapa problem. Kalau ada yang perlu ditanya atau mau ngasih saran, komen aja. Kontak langsung Sarah juga boleh, siapa tau jodoh hahaha.

Wassalamualaikum

Rabu, 10 Mei 2017

Praktik Lapangan Terpadu 2017 - Chapter 3

Assalamualaikum

Ayey, masuk Rabu ke tiga di lokasi PLT. Alhamdulillah, hujan masih tetap ada. Sakit gigi? Alhamdulillah udah gak kerasa. Coba tebak Sarah lagi dimana?

Sarah lagi diruangan yang dipenuhi seperangkat alat obob (baca: bobo), ya tepat, kamar. Kamar orang tapi loh, bukan kamar sendiri yang ada di Bogor. Hem.

Mau cerita apa ya sekarang? Cerita Wisata Tangga Seribu ulud (baca: dulu) aja gimana? Sip sip oke.

Lokasinya ada di Kampung Cikoneng Babakan, Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung. Nah lokasi wisata ini masih terbilang baru, kalau menurut Sarah. Tapi kata orang sini, orang Cikoneng, udah termasuk lokasi yang lama.

Alasannya sih sederhana, kalau emang baru ya karena posisi saung-saung yang nantinya bakal jadi warung, belum rampung sepenuhnya. Cek nih fotonya


Jangan terlalu fokus sama Sarahnya, nanti naksir. Cukup lah naksir sama indahnya wisata tangga seribu. Karena posisinya yang harus melalui tujuh ratus lebih anak tangga (kata yang rajin hitungin) jadi luar biasa indah pemandangannya. Gak percaya? Main-main lah ke Cikoneng.

Meskipun jumlah anak tangganya gak sampai seribu atau mungkin belum, orang-orang sini udah akrab dengan nama Tangga Seribu. Nah kalau orang sini bilang termasuk lokasi wisata yang udah lama itu mungkin alasannya karena tangga yang ada udah dibantu dengan pijakan dari kayu sebagai pembatas antar anak tangga.

Udah puas belum cerita tentang tangga seribunya? Belum ya, info sementara sih itu aja. Sarah bingung apa lagi yang menarik dari tangga seribu, karena lensa mata bisa lihat lebih wah daripada lensa kamera.

Selain ada wisatanya, kemarin sempat ada pengobatan gratis dari Rumah Zakat dan Majlis Ta'lim Telkomsel. Alhamdulillah acaranya lancar, meskipun awalnya masyarakat takut dengan adanya kegiatan pengobatan gratis.

Takut karena pola pikir masyarakat seperti ini, "ah nanti abis berobat, di check up sama dokter, jadi perlu ada pengobatan lanjutan, mahal lagi biayanya".

Namanya sakit, pasti mahal. Tapi selagi obat yang ada dari pengobatan gratis bisa menyembuhkan, Alhamdulillah kan. Percaya Allah lebih punya banyak cara untuk menyembuhkan hamba-Nya.

Lanjutnya cerita PDKT gimana? Pendekatan lah kalau kata anak-anak remaja. Bukan pendekatan sama calon bapak dari anak-anak Sarah nanti, tapi ini pendekatan sama masyarakat Cikoneng.

Iya tau iya, masyarakat lagi bahasannya. Nikmati aja bacanya ya rekan pembaca walaupun bosen. Pendekatannya gimana hayo?

Pendekatannya ya ikut keseharian masyarakat tersebut. Contoh, berkebun. Bukan kebun yang ada di halaman rumah, yang luasnya hanya sepetak. Kebun masyarakat disini cukup jauh dari rumah. Kanan kiri jalan menuju kebun penuh ragam tanaman yang masih membentang.

Selain rumput-rumputan liar, pohon bambu banyak terdapat diperjalanan menuju kebun. Yang jadi potensi besarnya sih tanaman singkong. Belajar jadi anak singkong sebulan disini.

Singkong yang diolah bisa banyak jenis, asal tau aja proses pembuatannya. Dari daun singkong, singkongnya, bahkan kulit singkong bisa jadi keripik yang renyah. Masih meragukan singkong? Jangan dong, singkong kan serba bisa, bikin kenyang juga, masa iya masih ragu.

Di kebun ngapain aja? Foto-foto dong, eh hahaha. Selain itu, ya ngobrol sambil cari info tentang masyarakat Cikoneng. Lanjutannya ya ngambil hasil sumber daya alam yang ada, asik loh. Ya apalagi kalau bukan singkong yang diambilnya. Ada yang lain deng, ngambil pepaya dan langsung di makan di tempat. Nih fotonya.


Mantap soul kan. Manis pokoknya itu pepaya. Oh iya, itu ibu Sarah selama disini. Namanya Ibu Tini, panggilan kesayangan orang sini, orang Cikoneng 02, Bu Entin. Yang manjat pohon itu De Zaki, anaknya Bu Entin.

Sepulang dari kebun Sarah ikut ke rumah Bu Entin untuk nyimpan hasil kebun. Rumput liar di kasih buat pakan ternak Bu Entin, sedangkan lenca dan singkong dibawa ke posko kelompok Sarah dan diolah kemudian.

Cukup ya ceritanya. Mulai lapar, dinginnya berlebihan disini, bikin kerasa segala. Kerasa ingin pulang ke rumah, huaaa. See you!

Wassalamualaikum

Senin, 08 Mei 2017

Praktik Lapangan Terpadu 2017 - Bonus Chapter

Assalamualaikum

Udah pada bangun kan ya? Udah lah, kan udah baca ini hahaha. Belum hari Rabu tapi udah update lagi tentang PLT, gak apa-apa ya, bonus buat rekan pembaca. Sarah kepo nih, kira-kira rekan pembaca udah pada tau praktik lapangan terpadu itu apa?

Tau lah, buat sebagian orang, terutama mahasiswa dan alumni jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Yaaa walaupun cuma sekedar hafal kalau praktik lapangan terpadu lebih akrab disebut PLT. Kalau Sarah ditanya tentang PLT jawabannya juga bakal sekedar tau karena belum pernah mencari tau sampai ke akarnya. Contohnya kalau rekan pembaca memberi pertanyaan sebagai berikut.

- - - - - - -

Jadi PLT itu apa, Sar?

Hm, sepengetahuan Sarah ya, PLT itu gabungan praktik dari beberapa mata kuliah yang terlampir di semester enam jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Entah penjelasan tersebut akurat atau tidak, tapi sepengetahuan Sarah, PLT hanya ada di jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kalau di UIN atau IAIN atau perguruan tinggi Islam lainnya, Sarah juga belum tau ada atau gaknya kegiatan PLT.

Kenapa sih namanya "praktik lapangan terpadu"?

Kembali ke sepengetahuan Sarah. Kegiatan ini dinamakan praktik lapangan terpadu sebagaimana unsur kata yang membentuknya; praktik lapangan dan terpadu. Praktik lapangan, yaps sesuai dengan kegiatan yang Sarah lalui 19 hari terakhir ini, berlalu di lapangan. Bukan lapangan yang berbentuk segi panjang dengan berbagai batas pinggirnya, lapangan yang Sarah maksud lebih luas dari itu. Lapangan yang dijadikan tempat praktik kegiatan ini berbentuk dinamis dan dibatasi oleh adat istiadat yang ada. Singkatnya, lapangan yang Sarah maksud lebih akrab di telinga orang banyak sebagai "masyarakat".

Bosen gak, lagi-lagi bahasnya masyarakat? Resiko sih ya kalau bosen, toh emang jurusannya bernuansa masyarakat. Jurusan yang bernuansa segala ada seperti di masyarakat, ada kegiatan sosial, ada kegiatan kegamaan, ada kegiatan kebudayaan dan ada kegiatan lainnya yang jumlahnya tak terkira. Hm berlebihan, Sar.

Terpadu, kalau dari kata itu menurut Sarah dikarenakan gabungan dari beberapa mata kuliah yang disajikan di semester enam. Kalau kegiatan praktik mata kuliah gak digabung, khususnya mata kuliah berbobot praktik, bisa saja mahasiswa semester enam akan kedodoran menyesuaikan waktu dan tempat praktik antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya. Berbeda ketika kegiatan praktik digabungkan menjadi terpadu di masyarakat, kegiatan praktik seakan lebih mudah meskipun sebetulnya "gak juga sih".

Coba apa yang membuat kegiatan praktik seakan lebih mudah? Tentu saja masyarakat. Dengan model pengabdian di masyarakat yang udah gak asing bagi mahasiswa, kegiatan praktik ini seakan lebih mudah karena mahasiswa bisa melakukan multi-praktik di lokasi pengabdian berdasarkan waktu dan tempat yang sudah disesuaikan dengan beberapa mata kuliah terkait.

Oh iya, kegiatan PLT gak cuma berbentuk pengabdian karena kurang sesuai dengan jurusan yang Sarah jalani saat ini. Lebih dari sekedar pengabdian, bahwa kegiatan PLT ini merujuk pada bentuk pemberdayaan. Sekedar memberdayakan pola pikir agar mau merubah pola pikir masyarakat di desa supaya mampu bersaing dengan masyarakat di kota. Memberdayakan pola pikir itu ya menggali kesadaran masyarakat.

Sadar bagaimana masyarakat desa mampu menghasilkan olahan makanan yang bernilai ekonomis, sadar bagaimana masyarakat desa mampu menjaga kesehatan diri dan orang disekitarnya dengan hidup bersih dan sehat, dan sadar lainnya yang mampu menampilkan masyarakat desa gak kalah menarik dibanding masyarakat kota. Bukan untuk persaingan yang merusak ke-Bhineka-an, bukan pula perbandingan yang menimbulkan persaingan, pemberdayaan ini menurut Sarah dapat memberikan keseimbangan antara masyarakat desa dan masyarakat kota.

Dan khusus di tahun 2017, kegiatan PLT semakin terpadu dengan adanya siklus SISDAMAS (berbaSIS pemberDAyaan MASyarakat). Adanya siklus ini merupakan formula yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Riset Aksi, Pak Rohmanur Aziz, untuk kegiatan KKN di bulan Februari lalu. Ini info akurat, kalau emang Sarah gak salah merangkai katanya he he he.

Nah itu tuh siklusnya, kepanjangan dari singkatan-singkatan tersebut sebagai berikut:
a. Soswal dan RW: sosialisasi awal dan rembug warga.
b. Refso: refleksi sosial
c. Peso: pemetaan sosial
d. Orgamas: organisasi masyarakat
e. Cantif: perencanaan partisipatif
f. Sipro: sinergi program
g. Pepro: pelaksanaan program
h. Monev: monitoring dan evaluasi

Bedanya PLT sama KKN apa?

Secara kegiatan, kayanya udah sama ya, karena sama-sama menggunakan siklus. Paling yang membedakan waktu kegiatannya, PLT lebih dahulu, KKN kemudian. Ada lagi yang beda, jumlah peserta dan komposisinya. Kalau PLT jumlah peserta terdiri dari satu angkatan mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan tentu hanya komposisi homogen; semua peserta merupakan mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sedangkan KKN jumlah peserta terdiri dari satu angkatan mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan tentu komposisi pesertanya lebih bervariatif karena pengelompokan peserta digabung dari berbagai jurusan. Mantap soul.

- - - - - - -

Masih kurang greget sama jawaban Sarah? Boleh kontak langsung aja ke line, id nya saraphaaan. Atau masih kepo PLT itu bagaimana? Boleh juga kontak Sarah, insyaAllah dibantu jawab sejelas-jelasnya yang rekan pembaca butuhkan. Mohon maaf jika postingan hari ini banyak kekurangan, karena Sarah juga lagi kekurangan kasih sayang dari orang tua. Hm curhat ya anak rantau.

Semoga rekan pembaca bisa memahami apa yang Sarah paparkan di atas. Oh iya, mungkin bagi adik-adik yang baru lulus SMA atau saudaranya ada yang baru lulus SMA lalu tertarik dengan jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung bisa banget loh daftar jadi mahasiswa barunya. 

Info pendaftaran mahasiswa baru UIN Sunan Gunung Djati Bandung - Jalur Pendaftaran MABA UIN Bandung 2017

Info jurusan Pengembangan Masyarakat Islam ada sedikit dicuplikan postingan berikut - POPMI 2016

Selamat hari Senin, semangat menjalankan aktivitasnya. See you!

Wassalamualaikum

Rabu, 03 Mei 2017

Praktik Lapangan Terpadu 2017 - Chapter 2

Assalamualaikum

Apa kabar hayo? Sehat dong? Sarah juga sehat, fisik mah, tapi gigi tetep nyut-nyutan. Ya deritanya punya gigi berlubang gini:')

Sarah mau cerita lagi ya. Masih betah kan baca cerita Sarah? Siapa tau rindu Sarah tapi gak bisa ketemu, yaudah di kasih tulisan aja. Seenggaknya, seakan Sarah lagi deket gitu sama yang baca ini. Hm . . .

Minggu kedua sudah berlalu. Hujan masih tetap menemani loh, sama seperti minggu kemarin. Dan hari-hari di minggu kedua, agak lebih cepat berlalu. Yey!

Sepertinya mulai betah ya bisa agak cepat berlalu. Cie betah, prosesnya lama juga biar betah hahaha. Betah karena apa hayo? Betah banyak yang dagang dan banyak anak-anak.

Yaps, sehari-hari disini banyak anak-anak. Anak-anak orang Cikoneng RW 02 pastinya. Mulai pagi, anak-anak RA yang kadang Sarah ajarin baca, berhitung, menulis dan lain sebagainya. Siangnya, kadang anak-anak SD pada main ke posko. Ngajak jalan ke tempat wisata atau sekedar ngajak main ke masjid. Sorenya, anak-anak RA sama SD yang sekolah agama (belajar ngaji, menulis arab dan lainnya yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam). Rame, kadang suka disamper ke posko kalau yang ngajarnya belum datang ke madrasah, tempat sekolah agama.

Praktiknya kok menjurus pengabdian? Ya namanya juga mengikuti alur masyarakat sini, belum lagi permintaan ibu RW buat bantu ngajar. Sarah sih, sebagai pendatang sekaligus belajar bareng masyarakat, mengikuti aja sambil tetap berdampingan dengan siklus praktik lapangan terpadu yang dikasih dosen pembimbing PLT.

Orang tua anak-anak pada kemana? Kenapa bukan pendekatan ke orang tuanya, Sar? Orang tuanya, ada. Ada yang kerja pabrik, ada yang ngarit (ngumpulin rumput) di kebun buat makanan sapi dan kambing, ada yang ngerawis kerudung dan ada pokoknya di rumah kalau pun emang gak ke kebun.

Pendekatan sama orang tua disini juga sudah. Yaps tentu, pendekatan yang harus lebih berani ke orang-orang Cikoneng RW 02. Bukan berani karena ngajak ribut, ini berani bertegur sapa. Selanjutnya ya sambil ngobrol, sambil cari tau info tentang Cikoneng RW 02 dan sambil ngejalanin siklus pastinya. Langkah selanjutnya?

Tetap mengikuti siklus meskipun kegiatan disini sudah mengetahui potensi yang ada. Sebulan disini juga pasti berlalu, kalau bukan komitmen warga yang bersedia untuk berdaya, mungkin gak ada "bekas"nya Sarah sempat ada di Cikoneng RW 02.

Sekian. Sarah bingung mau cerita apalagi. Mau ceritain si dia? Sarah kan gak punya "dia" hahaha. Ingatkan Sarah untuk bercerita tentang wisata disini ya, supaya yang baca kepengen main ke Cikoneng. See you!

Wassalamualaikum

Rabu, 26 April 2017

Praktik Lapangan Terpadu 2017 - Chapter 1

Assalamualaikum

Apa kabar? Mau tau gak? Sarah lagi sakit gigi sekarang. Dingin, jadi ngaruh ke gigi nyut-nyutan. Bae ah, bersyukur ya masih bisa ngerasain sakit.

Coba absen yang pernah ngabdi ke desa siapa? Enak gak? Gimana rasanya? Buat yang belum tau, kepo gak? Kalau kepo, Sarah mau cerita nih. Kalau gak kepo? Yaudah, Sarah mau tetep cerita hahaha.

Kenalan ulud (baca: dulu), Sarah lagi di Kampung Cikoneng RW 02 Desa Cibiru Wetan Kabupaten Bandung. Apa sih yang berbeda di tempat Sarah sekarang?

Beda temen ngobrol, temen hidup, temen makan, dan lain sebagainya. Beda juga sosialisasinya, mayoritas pakai bahasa Sunda. Hm, gak ngerti bos.

Sebelum lanjutin bedanya apa dan bingung maksudnya Sarah bahas apa, Sarah mau perjelas ulud. Perjelas aja, kan biasanya cewek suka butuh penjelasan hahaha.

Perjelas tentang Sarah yang ada di kampung orang. Tujuannya apa, Sar? Tujuannya praktik, yap praktik lapangan terpadu atau biasa disingkat PLT.

Di praktik ini pun merujuk perbedaan. Biasanya anak sains kalau praktik di lab, benar? Nah, berhubung Sarah di jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, jadi praktiknya langsung di masyarakat.

Terus kenapa harus masyarakat di kampung atau di desa? Karena masyarakat perlu adanya pemberdayaan, supaya bisa bersaing dengan keadaan kota. Siapa tau bisa jadi desa kuliner, desa wisata, atau desa-desa yang lainnya.

Udah ngerti sampai sini? Udah aja atuh ya. Kalau rada gak nyambung, ya disini juga lagi ramai sama suara-suara motor, jangkrik dan banyak lah. Rada linglung juga ini ngerangkai kata-katanya.

Lanjut bercerita aja. Seminggu pertama di desa orang itu rasanya...beuh luar biasa gak betah. Nangis, Sar? Gak ah, gak nangis. Cuma netes aja hahaha.

Dan perlu kalian tau, seminggu disini tuh lamanya...lama banget. Oh iya sebelum lanjut, FYI (baca: for your information) ya kalau Sarah disini dari tanggal 19 April, yaps baru Rabu minggu kemarin.

Bukannya nakut-nakutin, bikin parno atau apalah. Ini cerita aja. Yang bikin gak betah itu karena kaget. Kaget dengan yang berbeda.

Yang biasanya, ngobrol di kampus, sekarang temen ngobrolnya gak ada. Bukan disini gak ngobrol, cuma kalau sama orang baru, Sarah kan pemalu. Bukannya ngobrol, malah makin diem yang ada.

Sebentar lagi wisuda, masih aja malu. Ya gimana ya, dilatih biar gak malu juga tetep aja. Kecuali udah lama kenal, baru ketauan malu-maluin. Ups.

Selebihnya, dilanjut nanti ya. Sarah masih meraba-raba lingkungan disini. Sejauh ini warganya "welcome", apalagi anak-anaknya. Ngeliat sosial masyarakatnya, bikin iri. Ramahnya gak ketolongan, ramah banget. Lebay? Ya bodo. Faktanya ya begitu.

Sekian. Semoga tetap sehat ya yang baca ini.

Wassalamualaikum

Kamis, 24 November 2016

POPMI 2016

Judul kiriman kok kaya nama makanan? Ini yang nulis laper? Atau yang nulis mau promosi makanan?

Gak kok, gak. Sarah nulis judul kiriman itu sesuai dengan apa yang ingin dijelaskan berikut. Ya memang, memang dalam keadaan laper tapi gak akan promosi makanan. Karena yang ingin Sarah promosiin, jurusan kuliah Sarah dan seperangkat alat shalat, bukan deng, seperangkat penjelasan ospek jurusan yang biasa disingkat jadi POPMI.

POPMI merupakan salah satu rangkaian acara penyambutan dari kakak tingkat buat mahasiswa baru di jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. POPMI merupakan akronim dari Pekan Oriemtasi Pengembangan Masyarakat Islam.

Wah pekan? Jadi ospeknya satu minggu gitu?

Sabar, nanti Sarah jelasin gimana acara POPMI itu. Sebelum bahas lebih jauh tentang POPMI, kalian harus tau dulu jurusan Pengembangan Masyarakat Islam biar nantinya kalian bisa tertarik dan gabung bareng Sarah di jurusan tersebut.

Gimana setuju?

Gak setuju?

Yaudah gak usah lanjutin baca kalau gak mau tau jurusan Pengembangan Masyarakat Islam.

Apa? Mau tau? Boleh!

Sarah lanjutin penjelasan mengenai jurusan Pengembangan Masyarakat Islam nih ya.

Sebagaimana dilansir dalam http://www.fdk.uinsgd.ac.id/publik/content/579b0e3fae6d5 bahwa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) merupakan program studi unggulan pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Program studi Pengembangan Masyarakat Islam memusatkan kajiannya pada dakwah bi ahsan 'amal berupa tathwir (community development), bukan pada dakwah bi al-qawl.

Dengan demikian, jurusan PMI mencoba mencetak sarjana dakwah pengembangan masyarakat yang beriman, modern, dan bersaing. Sarjana PMI diproyeksikan untuk menjadi ahli dakwah bidang pengembangan sumber daya manusia, sumber daya lingkungan, dan sumber daya ekononi.

Satu yang perlu diingat, ahli dakwah gak melulu tentang ceramah ya. Karena nanti, para pemberdaya akan menjadi ahli dakwah yang sifatnya tindakan langsung, bukan melulu lewat bicara atau penyampaian materi saja. Dan, pemberdaya akan mengaplikasikan ilmunya dalam bentuk pengabdian di masyarakat.

Mata kuliah yang dibahas pada jurusan PMI gak hanya pendalaman agama Islam saja. Banyak rumpun ilmu sosial, ekonomi dan lain-lainnya yang ikut dibahas dalam beragam SKS. Ya bisa dibilang, paket komplit lah kalau pilih jurusan PMI, apalagi pilihnya PMI UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Beuh!

Komplit pisan, Lur!

Iya lah komplit, kan kalau mau ikut POPMI syaratnya harus menjadi mahasiswa/i di jurusan Pengembangan Masyarakat Islam. Cocok?

Lanjut. Bahas sedikit tentang acara POPMI, karena kalau mau tau lebih rinci . . . ingat aja syaratnya, apa coba?

Yaps! Tepat!

"Syaratnya menjadi mahasiswa/i jurusan Pengembangan Masyarakat Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung"

#Tambahan - Ingin lebih lanjut kepoin tentang PMI dan dakwah bil hal berdasarkan opini Sarah? Cari tau lebih lanjut! Klik aja, klik cari tau lebih lanjutnya.

Tiga tahun Sarah ikut berperan dalam kegiatan POPMI ini (ya tahun pertama jadi peserta, tahun kedua dan ketiga jadi panitia). Rangkaian acara yang dilalui biasanya ada: a) Pra - POPMI 1; b) Pra - POPMI 2; c) Acara Inti POPMI.

Di Pra - POPMI biasanya diisi dengan materi oleh narasumber-narasumber terpilih dan terpercaya kualitasnya.

Masih gak percaya nih? Yaudah, join dulu lah jadi mahasiswa/i jurusan PMI. Oke yay?

Sedangkan di acara inti, ya gitu lah. Rame! Ada banyak kelompok yang dibagi sesuai dengan jumlah peserta POPMI dan dibimbing juga oleh mentor disetiap kelompoknya.

Ngomong-ngomong kelompok, Sarah mau ceritain ah rasanya jadi mentor salah satu kelompok dan ternyata kelompok tersebut jadi K E L O M P O K - T E R B A I K. Yey!!!

Bersyukur pastinya. Bukan karena gelar kelompok terbaik setelah acara POPMI 2016 berhasil direbut oleh kelompok 3 - kelompok Al Fatih. Bersyukur karena mampu mengemban amanah sebagai mentor yang mampu membimbing adik-adik mahasiswa baru berproses menjadi yang seharusnya mereka lakukan ketika nanti mereka menjadi pengembang masyarakat (menjadi yang seharusnya itu bisa komunikasi yang baik sama masyarakat lah minimalnya).

Ngerti maksudnya apa? Gak? Yaudah gak apa-apa. Itu efek sok bijak tapi pakai bahasa yang susah dipahami. Maafin Sarah ya semua.

Lanjut, terlalu banyak rasa syukur yang ingin ditulis sebenarnya, karena takut bosan baca curhatan yang banyak ini mending udahan aja ya?

Jangan? Kenapa? Masih mau baca? Oke . . . Sarah lanjutkan curhatnya.

Jadi mentor kelompok tiga itu, jujur canggung. Kenapa?

Karena Sarah suka bingung buka obrolan sama orang lain. Beruntung saat ini media sosial ngebantu buat komunikasi berbentuk teks chat. Ya jadinya kan, komunikasi sama adik-adik mahasiswa baru kelompok tiga yang jumlahnya 9 orang itu melalui sms dan chat via aplikasi line. Alhamdulillah dimudahkan dengan kemajuan IPTEK.

Apalagi yang perlu diceritain? Tugas kelompok dan tugas mandiri peserta? Bersyukur, (tuh kan rasa syukur lagi dibahas) mereka kelompok tiga teramat mandiri dan mudah memahami apa yang dijelaskan panitia. Jadi murni, Sarah hanya membimbing dan mengawasi apa yang perlu diawasi sebelum dan selama acara POPMI 2016 berlangsung.

Nah, yang lebih rame itu ketika pembuatan yel-yel. Ya walaupun agak bingung lagi mau buat yel-yel gimana, karena gak canggih buat heboh-hebohan Sarah orangnya. Jadi sempat diam-diam mikir, mikir doang, yel-yel tetep gak ada. Beruntung, mentor satunya lagi punya ide yang ngebantu buat bikin yel-yel. Thank's to Suwanda. Prok Prok Prok!

Beberapa kali mereka, kelompok tiga, latihan ngekompakin yel-yel. Dari ngapalin lirik sampai ngapalin gerakannya. Memang, agak berisik dan riuh diantara kelompok lain yang masih diam-diam saja. Sampai akhirnya, salah satu panitia ingin tau yel-yel kelompok.

Dipanggil kelompok sekian, lupa kelompok berapa, ternyata oh ternyata...

Bagian awal yel-yel kami D I J I P L A K, ya ini mungkin karena terlalu berisik pas latihan yel-yel. Bingung mau ganti atau sama yel-yelnya kaya mereka. Akhirnya kami memutuskan ganti beberapa bagian yel-yel kelompok kami. Dan nyatanya, yel-yel tersebut ngebantu kelompok tiga menjadi yang terbaik. Alhamdulillah yakan?

Cukup ah ya curhatnya. Cape tau ngetik ini. Semoga kalian-kalian calon mahasiswa, gak bingung lagi pilih jurusan kalian diperkuliahan. Dan semoga . . . jurusan Pengembangan Masyarakat Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, bisa menjadi pilihan kalian, calon mahasiswa baru di kemudian hari.

See you next "karya" Sarah. Karya-karyaan sih ya, isinya aja curhat mulu tapi gak jelas apa yang dicurhatinnya.

Ha

Ha

Ha

Sedih ih.