Tampilkan postingan dengan label curhatan mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatan mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2018

Mahasiswa Tingkat Akhir - Kisah Pamungkas

Assalamualaikum

Met pageeh! Senin paginya semangat?
Harus semangat karena Sarah juga semangat nih buat nyapa kalian. Ceileh!

Pagi ini Sarah kasih sarapan tulisannya dari pengalaman Sarah aja ya. Tulisan ini ngedraft di otak Sarah sejak bulan Juli lalu. Setelah berabad-abad juga tidak ada pembaharuan tulisan, akhirnya ya kan yang ditunggu-tunggu ada lagi. Kangen pasti kan sama tulisan-tulisan Sarah?

Kangen aja dong, biar tau rasanya ada yang ngangenin. Walaupun tulisan-tulisannya doang yang dikangenin hahaha.

Dikiriman tulisan Sarah hari ini, Sarah mau cerita aja pengalaman “REVISI KELAR DALAM WAKTU SEBULAN”. Gak sebulan juga sih, karena kepotong sama libur lebaran. Buat yang penasaran cerita pas sidang Sarah kaya gimana sensasinya, nyusul ya. Atau yang terlanjur penasaran banget, bisa cek twitter aja. Di twitter udah Sarah pin kok tweetnya, jadi rekan-rekan pembaca gak perlu ngescroll lagi nyari tweetnya.


visit twitter @saraphaaan

- - - - - - -

Buat yang belum tau, Sarah lulus sidang skripsi atau sidang akhir, sidang munaqosah disebutnya kalau di kampus UIN, itu tanggal 06 Juni 2018. Selepas keadaan tanpa status mahasiswa, tapi semangat-semangat mahasiswanya masih nyisa, Sarah gak tenang tuh buat nyantai-nyantai gak ngerjain jurnal. Karena gimana ya, kata yang udah-udah, persyaratan jurnal agak ribet. Padahal nih kalau rekan-rekan pembaca mau tau, jurnal itu tuh isinya dari skripsi mahasiswa yang disalin ulang jadi bentuk jurnal. Kenapa ribet?

Karena banyak aturannya. Harus A, B, C, dan seterusnya. Kalau mau tau contoh templatenya ada nih, visit langsung jurnal dakwah, ini link jurnal dakwah UIN Bandung. Setelah visit, rekan-rekan pembaca bisa download ya templatenya; yang ada di sebalah kanan agak ke bawah dikit posisinya.

- - - - - - -

Bentar, bentar. Bingung Sarah, ini ceritanya meleleh kemana-mana. Langsung loncat aja ya ke hari para ASN (aparatur sipil negara) mulai masuk kerja lagi setelah libur lebaran. Kenapa loncatnya ke hari itu?

Karena dosen mulai aktif lagi di kampus pas hari itu.

Sekarang selesaiin dulu cerita revisian dah, biar Sarah beres satu-satu gitu cerita pengalaman yang terlanjur padat di otak dan susah dicairkan jadi duit, eh tulisan harusnya. Mulai yuk!

- - - - - - -

Senin, 25 Juni 2018.
Pagi itu, berangkat naik kereta dari rumah dengan sendal jepit merah karena hujan dan sampai di Bandung jam dua siang. Hari itu gak ada rencana buat revisian ke dosen penguji dua. Tapi berhubung udah gak kuat pengen cepat selesai revisiannya, langsung pindahin data dari laptop ke flashdisk, jalan dah tuh ke kampus sambil lirik kanan kiri nyari tempat fotocopy-an biar bisa ngeprint revisian. Eh cyin, tempat fotocopy masih pada tutup. Mau tau alasannya kenapa?

Karena masih suasana lebaran, ditambah karena lagi libur kuliah semester genap, ditambah karena dua hari lagi ada pilkada serentak.

Sedih akutu. Tapi tenang, Sarah berhasil ngeprint pokoknya siang itu. Selesai ngeprint, meluncur ke ruang dosen penguji dua. Ada dong dosennya, tapi ternyata lagi sibuk. Ada lima menit Sarah diam tuh sambil duduk depan meja kerja beliau dan akhirnya angkat bicara deh bapaknya, “Besok aja ya, jam sembilan-an”.

Yowes, Sarah pamit dengan senyuman. Ceileh! Hahaha.


Selasa, 26 Juni 2018.
Dengan semangat revisian yang ada, Sarah ke kampus jam delapan pagi. Jalan kaki santai dan sampai di kampus jam delapan lewat dua puluh. Tau gak?

Pas sampai di kampus, dosen pada melangkahkan kakinya ke aula utama. Ternyata, usut punya usut, hari itu dosen-dosen pada halal bihalal sama rektor. Hem.

Sebagai makhluk yang gemar menunggu dan enggan membuat orang lain menunggu, karena emang Sarah yang butuh, jadi ya ditunggu aja dosen penguji dua kembali ke ruangannya.

Lima menit menunggu.

Lima belas menit menunggu.

Tiga puluh lima menit menunggu.

Enam puluh lima menit menunggu.

Perut mulai bunyi.

Mulai bosan.

Tapi tetap menunggu.

Dan, setelah sembilan puluh menit menunggu.

Bapak dosen penguji dua datang, masuk ruangannya, tapi ngobrol dulu sama dosen lain. Masih di pantau tuh dari luar ruangan lewat jendela yang ada, curi-curi langkah siapa tau bapaknya langsung kabur lagi keluar ruangannya. Eh benar aja, bapak udah mulai melangkah ke pintu keluar, Sarah nyamperin deh ngasih senyum duluan.

“Eh neng, iya ayo sini”, bapaknya langsung putar langkah ke arah meja kerjanya. Setelah dipersilahkan duduk dan basa basi dikit, bapaknya nanya, “Yang mana ini yang direvisi?”.

Sarah tunjuk di kertas revisian, “Poin ini, sama poin ini pak”.

Hening. Bapaknya baca dulu hasil revisian.

“Oke”, bapaknya bolak balik isi skripsi Sarah yang udah di revisi. Karena bapaknya diam aja, takut dong, takut revisiannya masih ada yang salah. “Ini bapak tanda tangan dimana ya?”, tiba-tiba bengong pas bapaknya nanya itu.


Refleks lah ngeluarin kertas jeruk, atau kertas yang kasar gitu permukaanya. Kenapa sih harus kertas tersebut?

Karena kertas itu dipakai buat lembar pengesahan yang isinya tanda tangan penguji, sekaligus dipakai juga buat lembar persetujuan yang isinya tanda tangan pembimbing dan ketua jurusan.

Dan, langsung bapaknya tanda tangan disitu. Rangkap enam, karena Sarah ngebundel skripsinya jadi enam rangkap. Selesai revisian, selanjutnya?


Kamis, 28 Juni 2018
Langsung di tanggal ini, karena di hari Rabu itu hari Sarah merayakan kemalasan. Gogoleran gemay (read: tidur-tiduran gemas) di kosan. Kaya gimana tidur-tiduran gemas?

Ya tidur-tiduran biasa, ditambah Sarahnya yang gemay hahaha.

Nah di hari itu, mulai lah pergulatan dengan bundelan skripsi (bentuk skripsi yang sudah selesai dijilid). Berangkat ke tempat fotocopy dah tuh. Di tempat fotocopy yang pertama kali ditanya, “Bang bisa sehari beres gak?”. Dan abangnya menyanggupi. Kenapa sih nanya itu?

Biar semua cepat kelar. Terus, biar bisa cepat selesai juga ngumpulin persyaratan nebus ijazah ke bagian tata usaha fakultas. Kalau ngebundel aja berhari-hari, bisa keburu kendor semangat Sarah buat revisian.

Oh iya, syarat nebus ijazah gak cuma ngebundel skripsi. Ada tambahan nge-burning skripsi ke CD. Dan inget, BUNDEL SAMA BURNING-nya sesuai kebutuhan.

Contoh di persyaratan nebus ijazah, untuk pembimbing itu dapat satu bundel skripsi ternyata pembimbing minta skripsinya di flashdisk aja. Contoh lain, di persyaratan nebus ijazah, penguji itu gak dapat bundelan maupun burning skripsi mahasiswa tapi ternyata ada beberapa penguji yang minta file skripsi mahasiswanya untuk di-burning dan diberikan padanya. Dua aja ya contohnya, biar gak lama ngebahas ini, keburu bosen woy bahas ini doang. Iya gak sih?

Selesai nego, selesai kumpulin yang perlu dibundel dan di-burning, pokoknya selesai urusan sama abang-abang fotocopy yang mau ngebundel dan nge-burning skripsi Sarah. Marilah dirayakan dengan makan mie goreng dan minum teh hangat di kantin.

- - - - - - -

Note.
File yang perlu dibundel dan diburning itu sebenernya gak beda jauh isinya. Kurang lebih kaya gini ya

tampilan nama file yang mau di-burning


Untuk bagian lampiran, bebas ya mau ngelampirin apa aja. Bebas tapi sesuai dengan hasil penelitian di skripsi rekan-rekan pembaca. Untuk urutan lampirannya juga bebas, dibikin enaknya aja gimana; enak buat dibaca orang lain maksudnya. Kenapa filenya dibikin pdf?

Ya pengen aja hahaha. Karena gak ada aturan juga sih file yang di-burning ke CD itu harus format apa, jadi inisiatif bikin format PDF.

Oh iya tambahan, kalau untuk bundelan, Sarah ngelampirin juga lembar bimbingan, lembar SK skripsi dan lembar surat izin observasi.


Jumat, 29 Juni 2018
Selesai ngambil bundelan di tempat fotocopy, mampir sebentar ke kampus coba cari dosen penguji satu. Masuk fakultas, gak sengaja ketemu dosen penanggungjawab jurnal buat pastiin lagi kalau hari Senin jadi penyerahan draft jurnal, dan dosen menyanggupi. Karena dosen penguji satu gak ada juga, Sarah pulang ke kosan.

Dilanjut ngerjain jurnal bareng Sasa di Lekker 88. Tempatnya kejangkau sama transportasi umum dan rekomendasi buat nugas kalau bosen nugas di daerah Cibiru dan sekitarnya. Gak banyak yang perlu diceritain, intinya berusaha ngeberesin jurnal tapi ternyata malah banyak ngobrolnya karena kangen. Cie! Hahaha.

Oh iya, jurnal juga jadi salah syarat buat nebus ijazah ya.


Senin, 02 Juli 2018
Hari penyerahan draft jurnal bagi yang sudah mengikuti sidang skripsi. Siapa yang nentuin harinya?
Dosen penanggungjawab jurnal (bapak dosen A).

Datang tuh Sarah, Sasa, dan teman-teman lainnya ke depan ruang jurnal (ruang fakultas lantai empat) sesuai hari dan tanggal yang sudah dijanjikan. Sampai disana coba buka pintu, ternyata ruang jurnal di kunci. Bete dong.

Ngontak dosen yang bersangkutan. Ternyata dialihkan ke dosen lain yang juga bertanggungjawab terkait jurnal dakwah (bapak dosen B). Lanjut ngontak bapak dosen B yang jadi penanggungjawab jurnal, jawaban beliau, “Sedang tidak di kampus”. Lapor lagi ke bapak dosen A yang menjanjikan penyerahan jurnal di hari itu, mau tau gak jawaban dosennya apa?

Gini nih . . .

“Diundur besok lagi aja ya. Gak ngasih tau, jadi tidak saya agendakan”

Bete maksimal dong. Bukan cuma karena dosennya gak ada, tapi bete karena Sarah gak bisa tanggungjawab sama info yang udah Sarah sebar ke teman-teman angkatan.

Drama ya kan di akhir-akhir kehidupan dunia perkampusan.


Selasa, 03 Juli 2018
Ke kampus pagi-pagi mau nyamperin dosen pembimbing dua dan dosen pembimbing satu buat tanda tangan di lembar persetujuan skripsi. Karena di hari sebelumnya (tanggal 02 Juli 2018), Sarah udah kontak kedua dosen pembimbing, jadi tanda tangan di tanggal 03 Juli 2018 berjalan sesuai rencana. Gak ada lagi drama dosennya lagi gak di kampus.

Selesai minta tanda tangan dosen pembimbing, balik dulu ke kosan. Siang-siang jam setengah dua, Sarah ke kampus lagi mengusahakan penyerahan draft jurnal biar bisa cepat nebus ijazah. Dosen penanggungjawab jurnal (bapak dosen B) sekarang ada diruangannya dong. Ngantri tuh periksa draft jurnal sama teman-teman yang lain.

Draft jurnal diserahin. Bapak dosen B periksa draft jurnal Sarah. Ruangan jurnal ramai sama yang pada mau ngumpulin jurnal. Sarah degdegan nunggu hasil draft jurnal diperiksa.

Akhirnya bapak dosen B mengeluarkan suaranya, “Ini sumber darimana?”

Sarah jawab, “Ada di laporan pertanggungjawaban kegiatan diklat”

“Terus kenapa gak dicantumin disini?”, nunjuk satu poin draft jurnal Sarah.

“Terus ini juga sama?”, nunjuk satu poin lagi di draft jurnal Sarah.

Sarah ngangguk.

“Dicantumin dulu sumbernya. Setelah di revisi, langsung burning, kasih saya”.

Sambil edisi gemeteran, “Oh iya pak, makasih”.

Perintah pak dosen bikin gak nyangka. Dengan sekali revisi jurnal, bisa langsung dikumpulin. Padahal dengar dari cerita orang, ada yang tiga sampai empat kali revisian baru boleh dikumpulin.
Alhamdulillah, langsung dirayakan lah dengan beli Richeese via grab. Ngerayain sama siapa?

Ya sendiri.

Kalau rame-rame, gak ada duit buat bayarinnya:((

- - - - - - - 

Note.
Untuk penulisan jurnal sampai tahap penyerahan jurnal, kurang lebih gini prosesnya:
Download dulu file-file ini
Selesai download semuanya, coba ikut pelatihan jurnal ya. Karena secara menyeluruh dijelasin pas pelatihan jurnal. Jangan otodidak kalau emang gak ada pengalaman bikin jurnal. Sarah belum sanggup kalau harus jelasin semuanya di blog, kecuali secara personal, mudah-mudahan bisa bantu.

Seandainya udah download file-file itu, udah ikut pelatihan jurnal, dan udah mengikuti sidang skripsi, coba dikerjainnya pakai cara mencicil. Misalkan hari ini selesai dulu bagian judul sampai abstrak, besoknya bab satu selesaikan, lusanya bab dua selesaikan, begitu seterusnya sampai beres keseluruhan isi jurnal.

Bagian daftar pustaka biar gak lupa pakai referensi apa saja di isi jurnalnya, sambil copy paste isi skripsi ke jurnal, sambil dicatat juga di kertas keterangan referensinya. Atau contoh, setelah copy paste bab satu skripsi ke jurnal yang pakai referensi dari buku, lanjut copy paste juga daftar pustakanya ke bagian daftar pustaka file jurnal. Bingung gak?

Sarah bingung gimana jelasin yang baiknya. Belibet sendiri nulis caranya. Pokoknya kaya gitu dah.


Rabu, 04 Juli 2018
Dipertengahan malam menuju pagi, Sarah nyiapin file skripsi yang mau di upload ke Digital Library (digilib) UIN Bandung. Buat upload file juga butuh syarat ya. Nah ini download syarat digilib UIN Bandung.

Gunanya apa sih upload file ke digilib?

Hem, apa ya?

File skripsi bisa diakses via online sama adik-adik tingkat atau mungkin orang lain yang pengen tau skripsi jurusan Pengembangan Masyarakat Islam itu kaya gimana isinya.

Uploadnya bisa mandiri atau nebeng sama temen. Nebeng dosen juga boleh sih, kalau dosennya ngasih tebengan hahaha.

Selesai urusan upload file skripsi sesuai persyaratan, pagi-paginya sekitar jam 08.30 WIB, Sarah langsung ke fakultas. Ngapain?

Nyari dosen penguji satu sekaligus merangkap ketua jurusan, buat tanda tangan segala keperluan tanda tangan yang ada di skripsi Sarah. Untuk yang satu ini, Sarah gak ngontak dosennya ya. Karena ya begitu, lebih cepat pakai jurus langsung samperin keruangannya aja.

Dan cilukba! Bapak dosen penguji satu belum ada diruangannya. Berhubung ingin gerak cepet, Sarah inisiatif aja kabur ke ruang perpustakaan fakultas. Ngapain?

Ngumpulin bundelan skripsi dan CD yang isinya file skripsi. Selesai dikumpulin, inget ya minta tanda tangan dosen yang bertanggungjawab di perpustakaan fakultas. Oh iya, bawa buku juga ya buat diwakafin di perpustakaan fakultas. Tapi sebelum ngumpulin buku, ditanya dulu perlunya buku yang berkaitan dengan metodologi penelitian, berkaitan dengan jurusan, atau berkaitan dengan hal lain. Nanya ke siapa, Sar?

Nanya ke dosen yang bertanggungjawab di perpustakaan fakultas biar dapat kepastian harus wakafin buku yang seperti apa. Kalau udah wakafin buku, nanti dikasih surat keterangan pertama yang bisa dituker sama ijazah.

Selesai urusan di perpustakaan fakultas, lanjut dulu aja ke fakultas universitas. Masuk jam 09.00 WIB, hari itu Bandung cerah.

Hal pertama yang dilakuin yaitu ngisi daftar hadir pengunjung perpustakaan dengan cara scan kartu anggota perpustakaan. Selanjutnya, masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri dari arah pintu masuk. Disitu ngapain?

Ngecek kelengkapan file yang udah di upload ke digilib. Di cek bareng sama petugas perpustakaan universitas ya, kalau udah lolos dari pengecekan bakal dilanjut ke lantai dua buat penyerahan bundelan skripsi. Tiba di lantai dua, ke meja pengembalian buku, bilang aja, "mau nyerahin bundelan skripsi". Kalau udah bilang gitu, nanti ada intruksi lagi ke ruang barcode sekaligus dikasih kelengkapan surat keterangan buat nebus ijazah.

Surat keterangan dari perpustakaan universitas bakal di kasih kalau rekan-rekan pembaca gak ada hutang. Kenapa bisa ada hutang? Karena telat balikin peminjaman buku, ya walaupun kadang yang pinjamnya bukan diri sendiri.

Dapat tuh surat keterangan tambahan, langsung balik aja ke meja pengembalian buku. Disitu rekan-rekan pembaca diintruksikan untuk ngisi data dan bayar infaq Rp 20.000,-.

Inget minta tanda tangan petugas yang bertanggungjawab di perpustakaan universitas.

Cape gak sih baca kegiatan di tanggal 04 Juli ini? Sarah aja cape ngejelasinnya, gerak cepetnya bener-bener kagak boleh di kasih kendor!

Lanjut yaaa~

Di jam 10.00 WIB, Sarah balik lagi ke fakultas berusaha menemukan dosen penguji pertama. Abrakadabra!

Dosen penguji satu udah ada diruangannya. Ngobrol-ngobrol sedikit dan lupa ngobrolin apa, dapat tanda tangannya, selesai sudah ngurus revisian skripsi sekaligus mengumpulkan persyaratan buat dapat ijazah.

Balik ke kosan dari jam 10.30 WIB sampai jam 14.00 WIB buat bermalas-malasan di kasur.

 - - - - - - -

Siang menuju sore hari itu, Sarah balik ke kampus buat nyerahin jurnal. Simsalabim!

Jurnal selesai dikumpulin. Inget minta tanda tangan dosen penanggungjawab jurnal ya biar lengkap tuh lembar penebusan ijazah.

Dengan percaya dirinya langsung ke ruang tata usaha buat ngambil ijazah, gak taunya, "Neng, sidang bulan apa?"

"Juni, pak", jawab Sarah.

Bapaknya langsung respon, "Oh yang Juni mah belum ada. Belum di tanda tangan pak dekan. Kan bapak dekannya mau haji dulu".

- - - - - - -

Setelah drama pak dekan mau haji, Sarah nunggu ijazah sampai ada. Dan tau gak, ijazah Sarah baru ada bulan September setelah wisuda.

OK! No prob! Sekarang tinggal lihat aja, ijazah Sarah bisa nganter Sarah ke pekerjaan seperti apa?

Semoga sesuai yang selama ini diimpikan sih ya, semogaaaaaaa~

- - - - - - -

Sekian dan terima kasih. Sekiranya terlalu banyak yang masih perlu dipertanyakan, kolom komentar postingan ini aktif kok. Mohon maaf kalau dipertengahan sampai akhir cerita kurang greget, Sarah bingung sendiri sama cerita Sarah.

See you!
Wassalamualaikum

Jumat, 05 Januari 2018

Mahasiswa Tingkat Akhir - Kursus

Assalamualaikum

Awal bulan, awal tahun, tapi rindu buat kamu gak tau kapan berawalnya. Hahaha.

Apa kabar hayo? Sehat kan? Nah kalau misalkan lagi kurang sehat, semoga cepat sehat lagi, jaga pola makan, minum obat dan vitaminnya. Bisa tuh kan Sarah ngingetin rekan-rekan pembaca, tapi Sarah sendiri kadang lupa (lebih sering malas sih) makan. Muehehe.

Sekarang, Sarah angkut teman-teman ke dalam pengalaman Sarah yuk! Pengalaman sebagai mahasiswa tingkat akhir ketika diharuskan ikut kursus.

Kursus, Sar? Kaya anak sekolah yang mau ujian nasional deh.

Ya ya yaa. Mungkin beberapa tanggapan orang diluar sana seperti itu, tapi yang menarik yang mau Sarah ceritain; beragam kursus yang diakhir kursusnya ada tes sebagai salah satu cara untuk sertifikasi.

- - - - - - -

Berdasarkan "kabar angin" yang beredar, sertifikasi itu dibutuhkan sebagai syarat bagi mahasiswa-mahasiswa angkatan 2014 (termasuk Sarah) untuk mengikuti sidang skripsi atau sidang hasil penelitian atau yang lebih dikenal di lingkungan kampus Sarah yaitu sidang munaqosah.

Jangan dibayangin ribetnya gimana ya. Karena kalau udah dibayangin, bisa kagak tidur sehari semalem (paling cepat). Ya contohnya kaya Sarah malam ini, gak tidur kan nih? Hahaha.

Bukan bikin takut calon mahasiswa yang mau daftar di kampus atau pun jurusan yang sama dengan Sarah jalanin sekarang. Ini lagi mengisahkan realitas kampus yang harus dilalui tahapan-tahapannya serta realitas yang disesuaikan dengan tantangan zaman.

Toh nantinya, bisa juga kan di zaman rekan-rekan pembaca, apalagi calon mahasiswa yang memang berkeinginan di kampus atau jurusan yang sama dengan Sarah, persyaratan untuk menjadi calon sarjana semakin menantang. Padahal sudah cukup menantang; dari mulai mencari, menentukan penelitian dan persetujuan penelitian berbagai pihak. Teler yakan~

- - - - - - -

Kursus yang Sarah sudah ikuti dan sedang Sarah ikuti merupakan fasilitas kampus dan dinyatakan gratis; tidak ada biaya tambahan diluar uang kuliah. Bukan hanya kursus, tapi tes yang ada pun digratiskan. Namun, jika hasil tes belum memenuhi nilai yang disyaratkan harus ada pengulangan dan memerlukan biaya tambahan. Kabar kabarinya sih gitu, tapi Sarah juga belum tau standar nilai yang disyaratkan untuk lulus dan diperbolehlan sebagai syarat sidang harus berapa ratus poin.

Kursus yang dimaksud itu ada tiga macam, pertama kursus pelatihan penulisan akademik supaya mengenal dunia penulisan dan terjauh dari kegiatan plagiasi dkk.; kedua kursus TOAFL beserta tesnya; ketiga kursus TOEFA beserta tesnya.

Singkatnya nih ya, kursus pertama itu gak ada tesnya cuma dikasih tau aplikasi untuk pengecekan plagiasi dan katanya nanti ada standar plagiasi untuk skripsi yang disusun, meskipun belum di "ketuk palu" untuk angkatan tahun 2014 jadi atau tidaknya ada standar plagiasi dengan maksimal 30%. Jadi masih kabar kabur lah yaaa.

Nah kalau kursus TOAFL itu kursus Bahasa Arab sedangkan kursus TOEFA itu kursus Bahasa Inggris. Dua kursus ini nih, lumayan bikin muter otak. Maklum, rada lemot gitu Sarah kalau main di bahasa. Apalagi bahasa kalbu, eh bahasa arab deng, muehehe.

Karena kursus-kursus itu tuh, agak menyulitkan diri Sarah untuk membagi waktu dengan penilitian tugas akhir, ya emang secara akademik baik untuk kemampuan mahasiswa setelah melepas status mahasiswanya, tapi terlalu panjang gitu waktu kursusnya; sampai berbulan-bulan, wajar sih padahal.

Duh mulai curhat. Udahan aja ah. Semoga rekan-rekan pembaca gak lemot ya baca kisah Sarah yang rada kesana kemari.

Selamat malam dan selamat tidur, kalau rekan-rekan pembaca baca kisah ini malam hari sebelum tidur. Selamat pagi dan selamat menjalankan aktivitas, kalau rekan-rekan pembaca membaca kisah ini di pagi hari setelah bangun tidur.

Dan banyak selamat lainnya, yang bingung kalau semua diselamatkan satu persatu. See you!

Wassalamualaikum

Sabtu, 02 Desember 2017

Mahasiswa Tingkat Akhir - Dilema

Assalamualaikum

Yuhu. Yey. Yaps akhirnya Sarah kembali, aneun ya sama Sarah?

Gak aneun?

Yaudah gapapa kok, gak maksa.

Tapi, Sarah yang kangen bisa nulis di blog, apalagi sambil curhat-curhat manja hahaha. Berhubung sekarang Sarah lagi sibuk-sibuk gak jelas di kampus, jadi maaf ya kalau Sarah jarang posting. Udah tau dong Sarah sibuk apa?

Nah, kalau misalkan ada yang belum tau, baca dulu dong kalian dipostingan Sarah sebelumnya. Langsung di klik aja kalau emang rekan-rekan belum baca postingan sebelumnya; Halo. Oke ya? Oke dong, lumayan bisa nambah-nambah jumlah viewers, syukur-syukur bisa nambah wawasan buat rekan-rekan pembaca.

Dipostingan sekarang, yang ini nih, tau kan ya Sarah sedang di posisi menjadi mahasiswa tingkat akhir tapi sayang buat kamu gak pernah berakhir, eh hahaha. Maka dari itu, Sarah kasih tema "Mahasiswa Tingkat Akhir" yaps untuk postingan sekarang dan beberapa postingan selanjutnya.

Cus langsung yuk ah!

Kenapa coba judulnya "Dilema"? Karena ya emang lagi dilema. Menurut KBBI, dilema itu memiliki makna bahwa seseorang sedang berada di situasi yang sulit dan membingungkan.

Awal bisa dilema tuh karena kemarin pagi, pas lagi jalan pulang dari pasar mau ke rumah nenek, Sarah ngelewatin tukang odong-odong. Nah ada lagu anak-anak yang penggalan baitnya tuh kaya gini nih;

"Kalau adik, dapat kawan baru sayang, kawan yang lama dilupakan jangan . . ."

Singkat gitu doang, bikin dilema yang besar. Semakin diulang-ulang penggalan lagu itu, makin menggebu-gebu dilema di hati.

Apa coba yang bikin dilema?

Setelah dengar penggalan lagu itu, Sarah keingetan sama teman-teman di kampus; lebih khususnya sih yang memang lebih sering bareng-bareng sama Sarah, siapa coba? Ya kalau emang ngerasa sering bareng Sarah, pasti ngerti kok siapa aja he he he.

Keingetan gimana sih, Sar?

Keingetan aja, sebentar lagi Sarah dan teman-teman di kampus mulai asing karena tidak adanya perkuliahan. Asing untuk sebuah pertemuan. Asing untuk saling memberi senyuman. Yap, masing-masing akan merasa terasingkan, nantinya.

Keingetan juga, kalau setiap detik yang berlalu beberapa hari kemarin, pas Sarah bareng mereka, masih bisa asik ketawa bareng-bareng, masih ada kebersamaan yang hangat, masih bisa kumpul dan bercerita.

Terus keingetan kalau kebersamaan yang sudah terjalin di tiga tahun terakhir, bisa jadi segera berakhir. Bukan berakhir karena memang diinginkan untuk berakhir, tetapi berakhir karena perkuliahan untuk menggapai gelar sarjana akan segera berakhir. Semua berakhir atas izin-Nya, sebagaimana awal pertemuan dan kebersamaan Sarah dan teman-teman yang tidak dijadwalkan.

Singkatnya sih dengan penggalan lagu itu, Sarah menitipkan pesan untuk teman-teman di kampus seperti isi penggalan lagu tersebut.

Memang, masih banyak proses yang belum terlewati, karena Sarah pengen proses itu bisa bareng-bareng dilewati sebelum perkuliahan benar-benar berakhir. Meski kata orang-orang, "tingkat akhir lebih berasa asing karena jalan sendiri-sendiri", seenggaknya Sarah ingin mencoba mematahkan argumen orang-orang diluar sana.

Gini-gini amat ya dilema si mahasiswi tingkat akhir.

Mau lulus diawal waktu tapi belum siap ngerasa asing tanpa teman-teman dan tanpa rutinitas kampus. Ditambah banyak proses A sampai Z yang sejujurnya mulai lelah dilalui kalau seorang diri. Ditambah tuntutan zaman yang lebih sering menilai sukses dengan rupiah.

Mau lulus tepat waktu tapi diri pengen bisa ngebanggain diri sendiri dengan lulus diawal waktu.

Mau lulus lebih dari waktu yang semestinya, itu gak ada dalam rencana hidup ke depan.

Susah ya kalau semua dipikirin, untung aja Sarah sekarang bisa nulisin apa yang dipikirin, jadi gak ngerasa susah-susah amat. Berkurang lah seenggaknya setetes beban hidup sebagai mahasiswa tingkat akhir.

Maafin Sarah kalau terlalu umum dan kesana kemari nyeritain dilema yang lagi dirasa. Maafin juga, kalau Sarah terlalu berlebihan memaknai kebersamaan tiga tahun terakhir, semua itu terjalin memang karena rasa sayang. Sengaja diumbar-umbar, biar tau kalau Sarah itu penyayang. Sombong gapapa dong? Eh hahaha.

Terima kasih. Pokoknya terima kasih. Sekali lagi, terima kasih.

Semoga curhatan ini bisa menjadi jembatan untuk silaturahmi antara Sarah dan rekan-rekan pembaca. Sampai jumpa ditulisan selanjutnya, jika ada izin-Nya buat Sarah curhat lagi di blog.

Dadah!
Wassalamualaikum

Minggu, 15 Oktober 2017

Halo

Assalamualaikum semuaaaaa!

Iya semua, yang di Bandung, yang di Bogor, atau bisa juga yang di Jakarta, eh atau lagi pada di rumah aja kaya Sarah?

Sehat kan sehat? Sarah kangen bisa "nulis santai" kaya gini, ya walaupun yang baca tulisannya juga cuma satu - dua orang, hiks.

(Nulis santai; ungkapan Sarah untuk kegiatan nulis di blog, yang kadang menjurus ke curhat dan menyalurkan hobi nulisnya tanpa dibantu teori dari buku namun kadang dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi maupun latar belakang cerita orang lain)

Oh iya, rekan pembaca apa kabar? Terlalu lama dianggurin ya kayanya sama Sarah, apalagi tampilan blognya "bulukan". Udah sebulan lebih gak ada postingan. Masih mau tapi jadi pembaca setia blog saraphaaan?

Harus mau dong! Yaa yaaa yaaaa, maksa ini sih Sarahnya hahaha.

Dipostingan kali ini, bakal diusut Sarah sibuk apa sih sampai gak ada waktu buat "nulis santai". Bukan gak ada waktu, emang Sarah aja yang gak bisa ngatur waktu lebih greget. Dan, sengaja judul postingan sekarang cuma "Halo", biar sesuai sama keadaan aku kamu yang udah lama gak tegur sapa. Eh keadaan Sarah sama rekan pembaca maksudnya hahaha.

And now, mulai usut Sarah sibuk apa?

Hem, sebelumnya izin minta maaf karena terlalu lama nganggurin. Dimaafin ya rekan pembacakuh hehe. Oke langsung lanjut ya, Sarah mau cerita sedikit sebulan lebih kemana aja dan ngapain aja.

Kalau kepo, lanjut bacanya. Kalau gak kepo, ya tetep lanjut bacanya dong, sayang. Ups.

- - - - - - -

Kemana aja?

Sarah kemana-mana. Kadang pulang ke rumah di Bogor. Pernah pulang ke rumah nenek di Sumedang. Pernah diem aja di kosan, gak kemana-mana. Yang pasti kalau hari-hari biasa, Sarah bolak balik ke kampus buat kuliah.

Ngapain aja?

Sarah kuliah, udah jelas sih itu karena di semester tujuh sekarang masih ada tujuh mata kuliah yang perlu dituntut ilmunya. Ditambah mata kuliah berbobot praktik, yang suka gak suka, merenggut waktu lebih banyak di luar waktu kuliah yang ada.

Sarah juga lagi persiapan SUPS (Seminar Usulan Proposal Skripsi). Di SUPS itu tuh, Sarah banyak nulis tapi gak nyantai, karena yang di tulis proposal skripsi, yang perlu banyak teori dan pilihan kata ilmiah yang sesuai. Bikin mumet kalau boleh jujur.

Kalau mau tau proposal skripsi itu apa? Sarah bahas dipostingan khusus tentang "wisuda", gak janji tapi ya. Nanti dosa kalau Sarah janji tapi gak ditepatin.

Di semester sekarang juga, Sarah ikut kursus persiapan TOAFL. Ini bikin mangap berlebihan, karena sejujurnya masih gak ngerti cara belajar Bahasa Arab yang diajarkan. Belum lagi bentuk tulisan yang beda, makin berasa dah sensasi belajarnya yang sedikit menguras pikiran.

Selain kursus, Sarah juga ada bimbingan tahfidz juz 30. Di bimbingan ini, dipersiapkan jiwa dan mental calon wisudawan dan wisudawati biar mantap kalau nanti sidang tahfidz, menurut Sarah sih itu.

Terakhir kayanya ini, Sarah sibuk mempersiapkan nikah. Eh bukan hahaha, Sarah lagi mempersiapkan kegiatan di organisasi daerah dan di organisasi jurusan. Persiapannya pasti bareng panitia yang lain, gak mungkin sendirian. Jadi, ada jadwal tambahan buat rapat biar kegiatannya sukses.

- - - - - - -

Cukup. Sarah mulai ngantuk. Lucu tau kalau Sarah ngantuk, tapi bohong hahaha.

Terima kasih sudah baca sampai sini. Terima kasih sudah membiarkan Sarah curhat kesana kemari. Dan terima kasih untuk segalanya.

Jaga kesehatan. Ingat keluarga, sahabat dan orang-orang terdekat yang selalu mendambakan kebersamaan. Maka dari itu, dijaga kesehatan biar tetap terjalin kebersamaan.

Sampai jumpa lagi, nanti.

Wassalamualaikum semuaaaa.

Selasa, 29 Maret 2016

Anak Rantau dan Mama

Ma...mungkin aku terlalu menyia-nyiakan waktu kebersamaan dengan keluarga ketika aku kembali ke rumah.

Ma...mungkin aku masih terlalu cuek dengan keadaan di rumah.

Ma...kata orang hidup merantau itu harus punya kesiapan mental. Siap dalam hal hidup di kota orang yang mungkin tidak ada sanak saudara.

Ma...kata orang hidup merantau itu harus punya ketegehuan iman. Teguh dalam hal pergaulan yang arahnya kadang bisa berubah dalam setiap detiknya.

Ma...kata orang hidup merantau itu harus punya keinginan lebih baik. Ingin dalam hal menjalani kehidupan diperantauan dengan ikhlas dan sabar hingga terjemput kata sukses dalam kehidupan.

Tapi ternyata ma...merantau itu perlu waktu dan keyakinan sendiri untuk dapat bertahan tanpa tangisan dalam pelukan mama.

Andai ma...aku seperti teman-temanku yang lain yang tidak hidup merantau, yang hidup selalu berdampingan dengan mama, yang jika lelah dapat mengadu pada mama, yang jika tiba disambut hangat senyum sapa mama dan jika sakit ada kasih sayang spesial dari mama untuk kesembuhan sang anak lebih cepat.

Doakan aku ma...doakan agar anakmu mampu mengganti kasih sayangmu dengan senyum bahagia diwajahmu ketika aku mampu berhasil menjemput suksesku.

Bukan tentang rindu, ini perihal hidupku dengan segala keluh kesahku yang jauh darimu...mamaku.