Tampilkan postingan dengan label pengembangan masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengembangan masyarakat. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2018

Mahasiswa Tingkat Akhir - Kisah Pamungkas

Assalamualaikum

Met pageeh! Senin paginya semangat?
Harus semangat karena Sarah juga semangat nih buat nyapa kalian. Ceileh!

Pagi ini Sarah kasih sarapan tulisannya dari pengalaman Sarah aja ya. Tulisan ini ngedraft di otak Sarah sejak bulan Juli lalu. Setelah berabad-abad juga tidak ada pembaharuan tulisan, akhirnya ya kan yang ditunggu-tunggu ada lagi. Kangen pasti kan sama tulisan-tulisan Sarah?

Kangen aja dong, biar tau rasanya ada yang ngangenin. Walaupun tulisan-tulisannya doang yang dikangenin hahaha.

Dikiriman tulisan Sarah hari ini, Sarah mau cerita aja pengalaman “REVISI KELAR DALAM WAKTU SEBULAN”. Gak sebulan juga sih, karena kepotong sama libur lebaran. Buat yang penasaran cerita pas sidang Sarah kaya gimana sensasinya, nyusul ya. Atau yang terlanjur penasaran banget, bisa cek twitter aja. Di twitter udah Sarah pin kok tweetnya, jadi rekan-rekan pembaca gak perlu ngescroll lagi nyari tweetnya.


visit twitter @saraphaaan

- - - - - - -

Buat yang belum tau, Sarah lulus sidang skripsi atau sidang akhir, sidang munaqosah disebutnya kalau di kampus UIN, itu tanggal 06 Juni 2018. Selepas keadaan tanpa status mahasiswa, tapi semangat-semangat mahasiswanya masih nyisa, Sarah gak tenang tuh buat nyantai-nyantai gak ngerjain jurnal. Karena gimana ya, kata yang udah-udah, persyaratan jurnal agak ribet. Padahal nih kalau rekan-rekan pembaca mau tau, jurnal itu tuh isinya dari skripsi mahasiswa yang disalin ulang jadi bentuk jurnal. Kenapa ribet?

Karena banyak aturannya. Harus A, B, C, dan seterusnya. Kalau mau tau contoh templatenya ada nih, visit langsung jurnal dakwah, ini link jurnal dakwah UIN Bandung. Setelah visit, rekan-rekan pembaca bisa download ya templatenya; yang ada di sebalah kanan agak ke bawah dikit posisinya.

- - - - - - -

Bentar, bentar. Bingung Sarah, ini ceritanya meleleh kemana-mana. Langsung loncat aja ya ke hari para ASN (aparatur sipil negara) mulai masuk kerja lagi setelah libur lebaran. Kenapa loncatnya ke hari itu?

Karena dosen mulai aktif lagi di kampus pas hari itu.

Sekarang selesaiin dulu cerita revisian dah, biar Sarah beres satu-satu gitu cerita pengalaman yang terlanjur padat di otak dan susah dicairkan jadi duit, eh tulisan harusnya. Mulai yuk!

- - - - - - -

Senin, 25 Juni 2018.
Pagi itu, berangkat naik kereta dari rumah dengan sendal jepit merah karena hujan dan sampai di Bandung jam dua siang. Hari itu gak ada rencana buat revisian ke dosen penguji dua. Tapi berhubung udah gak kuat pengen cepat selesai revisiannya, langsung pindahin data dari laptop ke flashdisk, jalan dah tuh ke kampus sambil lirik kanan kiri nyari tempat fotocopy-an biar bisa ngeprint revisian. Eh cyin, tempat fotocopy masih pada tutup. Mau tau alasannya kenapa?

Karena masih suasana lebaran, ditambah karena lagi libur kuliah semester genap, ditambah karena dua hari lagi ada pilkada serentak.

Sedih akutu. Tapi tenang, Sarah berhasil ngeprint pokoknya siang itu. Selesai ngeprint, meluncur ke ruang dosen penguji dua. Ada dong dosennya, tapi ternyata lagi sibuk. Ada lima menit Sarah diam tuh sambil duduk depan meja kerja beliau dan akhirnya angkat bicara deh bapaknya, “Besok aja ya, jam sembilan-an”.

Yowes, Sarah pamit dengan senyuman. Ceileh! Hahaha.


Selasa, 26 Juni 2018.
Dengan semangat revisian yang ada, Sarah ke kampus jam delapan pagi. Jalan kaki santai dan sampai di kampus jam delapan lewat dua puluh. Tau gak?

Pas sampai di kampus, dosen pada melangkahkan kakinya ke aula utama. Ternyata, usut punya usut, hari itu dosen-dosen pada halal bihalal sama rektor. Hem.

Sebagai makhluk yang gemar menunggu dan enggan membuat orang lain menunggu, karena emang Sarah yang butuh, jadi ya ditunggu aja dosen penguji dua kembali ke ruangannya.

Lima menit menunggu.

Lima belas menit menunggu.

Tiga puluh lima menit menunggu.

Enam puluh lima menit menunggu.

Perut mulai bunyi.

Mulai bosan.

Tapi tetap menunggu.

Dan, setelah sembilan puluh menit menunggu.

Bapak dosen penguji dua datang, masuk ruangannya, tapi ngobrol dulu sama dosen lain. Masih di pantau tuh dari luar ruangan lewat jendela yang ada, curi-curi langkah siapa tau bapaknya langsung kabur lagi keluar ruangannya. Eh benar aja, bapak udah mulai melangkah ke pintu keluar, Sarah nyamperin deh ngasih senyum duluan.

“Eh neng, iya ayo sini”, bapaknya langsung putar langkah ke arah meja kerjanya. Setelah dipersilahkan duduk dan basa basi dikit, bapaknya nanya, “Yang mana ini yang direvisi?”.

Sarah tunjuk di kertas revisian, “Poin ini, sama poin ini pak”.

Hening. Bapaknya baca dulu hasil revisian.

“Oke”, bapaknya bolak balik isi skripsi Sarah yang udah di revisi. Karena bapaknya diam aja, takut dong, takut revisiannya masih ada yang salah. “Ini bapak tanda tangan dimana ya?”, tiba-tiba bengong pas bapaknya nanya itu.


Refleks lah ngeluarin kertas jeruk, atau kertas yang kasar gitu permukaanya. Kenapa sih harus kertas tersebut?

Karena kertas itu dipakai buat lembar pengesahan yang isinya tanda tangan penguji, sekaligus dipakai juga buat lembar persetujuan yang isinya tanda tangan pembimbing dan ketua jurusan.

Dan, langsung bapaknya tanda tangan disitu. Rangkap enam, karena Sarah ngebundel skripsinya jadi enam rangkap. Selesai revisian, selanjutnya?


Kamis, 28 Juni 2018
Langsung di tanggal ini, karena di hari Rabu itu hari Sarah merayakan kemalasan. Gogoleran gemay (read: tidur-tiduran gemas) di kosan. Kaya gimana tidur-tiduran gemas?

Ya tidur-tiduran biasa, ditambah Sarahnya yang gemay hahaha.

Nah di hari itu, mulai lah pergulatan dengan bundelan skripsi (bentuk skripsi yang sudah selesai dijilid). Berangkat ke tempat fotocopy dah tuh. Di tempat fotocopy yang pertama kali ditanya, “Bang bisa sehari beres gak?”. Dan abangnya menyanggupi. Kenapa sih nanya itu?

Biar semua cepat kelar. Terus, biar bisa cepat selesai juga ngumpulin persyaratan nebus ijazah ke bagian tata usaha fakultas. Kalau ngebundel aja berhari-hari, bisa keburu kendor semangat Sarah buat revisian.

Oh iya, syarat nebus ijazah gak cuma ngebundel skripsi. Ada tambahan nge-burning skripsi ke CD. Dan inget, BUNDEL SAMA BURNING-nya sesuai kebutuhan.

Contoh di persyaratan nebus ijazah, untuk pembimbing itu dapat satu bundel skripsi ternyata pembimbing minta skripsinya di flashdisk aja. Contoh lain, di persyaratan nebus ijazah, penguji itu gak dapat bundelan maupun burning skripsi mahasiswa tapi ternyata ada beberapa penguji yang minta file skripsi mahasiswanya untuk di-burning dan diberikan padanya. Dua aja ya contohnya, biar gak lama ngebahas ini, keburu bosen woy bahas ini doang. Iya gak sih?

Selesai nego, selesai kumpulin yang perlu dibundel dan di-burning, pokoknya selesai urusan sama abang-abang fotocopy yang mau ngebundel dan nge-burning skripsi Sarah. Marilah dirayakan dengan makan mie goreng dan minum teh hangat di kantin.

- - - - - - -

Note.
File yang perlu dibundel dan diburning itu sebenernya gak beda jauh isinya. Kurang lebih kaya gini ya

tampilan nama file yang mau di-burning


Untuk bagian lampiran, bebas ya mau ngelampirin apa aja. Bebas tapi sesuai dengan hasil penelitian di skripsi rekan-rekan pembaca. Untuk urutan lampirannya juga bebas, dibikin enaknya aja gimana; enak buat dibaca orang lain maksudnya. Kenapa filenya dibikin pdf?

Ya pengen aja hahaha. Karena gak ada aturan juga sih file yang di-burning ke CD itu harus format apa, jadi inisiatif bikin format PDF.

Oh iya tambahan, kalau untuk bundelan, Sarah ngelampirin juga lembar bimbingan, lembar SK skripsi dan lembar surat izin observasi.


Jumat, 29 Juni 2018
Selesai ngambil bundelan di tempat fotocopy, mampir sebentar ke kampus coba cari dosen penguji satu. Masuk fakultas, gak sengaja ketemu dosen penanggungjawab jurnal buat pastiin lagi kalau hari Senin jadi penyerahan draft jurnal, dan dosen menyanggupi. Karena dosen penguji satu gak ada juga, Sarah pulang ke kosan.

Dilanjut ngerjain jurnal bareng Sasa di Lekker 88. Tempatnya kejangkau sama transportasi umum dan rekomendasi buat nugas kalau bosen nugas di daerah Cibiru dan sekitarnya. Gak banyak yang perlu diceritain, intinya berusaha ngeberesin jurnal tapi ternyata malah banyak ngobrolnya karena kangen. Cie! Hahaha.

Oh iya, jurnal juga jadi salah syarat buat nebus ijazah ya.


Senin, 02 Juli 2018
Hari penyerahan draft jurnal bagi yang sudah mengikuti sidang skripsi. Siapa yang nentuin harinya?
Dosen penanggungjawab jurnal (bapak dosen A).

Datang tuh Sarah, Sasa, dan teman-teman lainnya ke depan ruang jurnal (ruang fakultas lantai empat) sesuai hari dan tanggal yang sudah dijanjikan. Sampai disana coba buka pintu, ternyata ruang jurnal di kunci. Bete dong.

Ngontak dosen yang bersangkutan. Ternyata dialihkan ke dosen lain yang juga bertanggungjawab terkait jurnal dakwah (bapak dosen B). Lanjut ngontak bapak dosen B yang jadi penanggungjawab jurnal, jawaban beliau, “Sedang tidak di kampus”. Lapor lagi ke bapak dosen A yang menjanjikan penyerahan jurnal di hari itu, mau tau gak jawaban dosennya apa?

Gini nih . . .

“Diundur besok lagi aja ya. Gak ngasih tau, jadi tidak saya agendakan”

Bete maksimal dong. Bukan cuma karena dosennya gak ada, tapi bete karena Sarah gak bisa tanggungjawab sama info yang udah Sarah sebar ke teman-teman angkatan.

Drama ya kan di akhir-akhir kehidupan dunia perkampusan.


Selasa, 03 Juli 2018
Ke kampus pagi-pagi mau nyamperin dosen pembimbing dua dan dosen pembimbing satu buat tanda tangan di lembar persetujuan skripsi. Karena di hari sebelumnya (tanggal 02 Juli 2018), Sarah udah kontak kedua dosen pembimbing, jadi tanda tangan di tanggal 03 Juli 2018 berjalan sesuai rencana. Gak ada lagi drama dosennya lagi gak di kampus.

Selesai minta tanda tangan dosen pembimbing, balik dulu ke kosan. Siang-siang jam setengah dua, Sarah ke kampus lagi mengusahakan penyerahan draft jurnal biar bisa cepat nebus ijazah. Dosen penanggungjawab jurnal (bapak dosen B) sekarang ada diruangannya dong. Ngantri tuh periksa draft jurnal sama teman-teman yang lain.

Draft jurnal diserahin. Bapak dosen B periksa draft jurnal Sarah. Ruangan jurnal ramai sama yang pada mau ngumpulin jurnal. Sarah degdegan nunggu hasil draft jurnal diperiksa.

Akhirnya bapak dosen B mengeluarkan suaranya, “Ini sumber darimana?”

Sarah jawab, “Ada di laporan pertanggungjawaban kegiatan diklat”

“Terus kenapa gak dicantumin disini?”, nunjuk satu poin draft jurnal Sarah.

“Terus ini juga sama?”, nunjuk satu poin lagi di draft jurnal Sarah.

Sarah ngangguk.

“Dicantumin dulu sumbernya. Setelah di revisi, langsung burning, kasih saya”.

Sambil edisi gemeteran, “Oh iya pak, makasih”.

Perintah pak dosen bikin gak nyangka. Dengan sekali revisi jurnal, bisa langsung dikumpulin. Padahal dengar dari cerita orang, ada yang tiga sampai empat kali revisian baru boleh dikumpulin.
Alhamdulillah, langsung dirayakan lah dengan beli Richeese via grab. Ngerayain sama siapa?

Ya sendiri.

Kalau rame-rame, gak ada duit buat bayarinnya:((

- - - - - - - 

Note.
Untuk penulisan jurnal sampai tahap penyerahan jurnal, kurang lebih gini prosesnya:
Download dulu file-file ini
Selesai download semuanya, coba ikut pelatihan jurnal ya. Karena secara menyeluruh dijelasin pas pelatihan jurnal. Jangan otodidak kalau emang gak ada pengalaman bikin jurnal. Sarah belum sanggup kalau harus jelasin semuanya di blog, kecuali secara personal, mudah-mudahan bisa bantu.

Seandainya udah download file-file itu, udah ikut pelatihan jurnal, dan udah mengikuti sidang skripsi, coba dikerjainnya pakai cara mencicil. Misalkan hari ini selesai dulu bagian judul sampai abstrak, besoknya bab satu selesaikan, lusanya bab dua selesaikan, begitu seterusnya sampai beres keseluruhan isi jurnal.

Bagian daftar pustaka biar gak lupa pakai referensi apa saja di isi jurnalnya, sambil copy paste isi skripsi ke jurnal, sambil dicatat juga di kertas keterangan referensinya. Atau contoh, setelah copy paste bab satu skripsi ke jurnal yang pakai referensi dari buku, lanjut copy paste juga daftar pustakanya ke bagian daftar pustaka file jurnal. Bingung gak?

Sarah bingung gimana jelasin yang baiknya. Belibet sendiri nulis caranya. Pokoknya kaya gitu dah.


Rabu, 04 Juli 2018
Dipertengahan malam menuju pagi, Sarah nyiapin file skripsi yang mau di upload ke Digital Library (digilib) UIN Bandung. Buat upload file juga butuh syarat ya. Nah ini download syarat digilib UIN Bandung.

Gunanya apa sih upload file ke digilib?

Hem, apa ya?

File skripsi bisa diakses via online sama adik-adik tingkat atau mungkin orang lain yang pengen tau skripsi jurusan Pengembangan Masyarakat Islam itu kaya gimana isinya.

Uploadnya bisa mandiri atau nebeng sama temen. Nebeng dosen juga boleh sih, kalau dosennya ngasih tebengan hahaha.

Selesai urusan upload file skripsi sesuai persyaratan, pagi-paginya sekitar jam 08.30 WIB, Sarah langsung ke fakultas. Ngapain?

Nyari dosen penguji satu sekaligus merangkap ketua jurusan, buat tanda tangan segala keperluan tanda tangan yang ada di skripsi Sarah. Untuk yang satu ini, Sarah gak ngontak dosennya ya. Karena ya begitu, lebih cepat pakai jurus langsung samperin keruangannya aja.

Dan cilukba! Bapak dosen penguji satu belum ada diruangannya. Berhubung ingin gerak cepet, Sarah inisiatif aja kabur ke ruang perpustakaan fakultas. Ngapain?

Ngumpulin bundelan skripsi dan CD yang isinya file skripsi. Selesai dikumpulin, inget ya minta tanda tangan dosen yang bertanggungjawab di perpustakaan fakultas. Oh iya, bawa buku juga ya buat diwakafin di perpustakaan fakultas. Tapi sebelum ngumpulin buku, ditanya dulu perlunya buku yang berkaitan dengan metodologi penelitian, berkaitan dengan jurusan, atau berkaitan dengan hal lain. Nanya ke siapa, Sar?

Nanya ke dosen yang bertanggungjawab di perpustakaan fakultas biar dapat kepastian harus wakafin buku yang seperti apa. Kalau udah wakafin buku, nanti dikasih surat keterangan pertama yang bisa dituker sama ijazah.

Selesai urusan di perpustakaan fakultas, lanjut dulu aja ke fakultas universitas. Masuk jam 09.00 WIB, hari itu Bandung cerah.

Hal pertama yang dilakuin yaitu ngisi daftar hadir pengunjung perpustakaan dengan cara scan kartu anggota perpustakaan. Selanjutnya, masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri dari arah pintu masuk. Disitu ngapain?

Ngecek kelengkapan file yang udah di upload ke digilib. Di cek bareng sama petugas perpustakaan universitas ya, kalau udah lolos dari pengecekan bakal dilanjut ke lantai dua buat penyerahan bundelan skripsi. Tiba di lantai dua, ke meja pengembalian buku, bilang aja, "mau nyerahin bundelan skripsi". Kalau udah bilang gitu, nanti ada intruksi lagi ke ruang barcode sekaligus dikasih kelengkapan surat keterangan buat nebus ijazah.

Surat keterangan dari perpustakaan universitas bakal di kasih kalau rekan-rekan pembaca gak ada hutang. Kenapa bisa ada hutang? Karena telat balikin peminjaman buku, ya walaupun kadang yang pinjamnya bukan diri sendiri.

Dapat tuh surat keterangan tambahan, langsung balik aja ke meja pengembalian buku. Disitu rekan-rekan pembaca diintruksikan untuk ngisi data dan bayar infaq Rp 20.000,-.

Inget minta tanda tangan petugas yang bertanggungjawab di perpustakaan universitas.

Cape gak sih baca kegiatan di tanggal 04 Juli ini? Sarah aja cape ngejelasinnya, gerak cepetnya bener-bener kagak boleh di kasih kendor!

Lanjut yaaa~

Di jam 10.00 WIB, Sarah balik lagi ke fakultas berusaha menemukan dosen penguji pertama. Abrakadabra!

Dosen penguji satu udah ada diruangannya. Ngobrol-ngobrol sedikit dan lupa ngobrolin apa, dapat tanda tangannya, selesai sudah ngurus revisian skripsi sekaligus mengumpulkan persyaratan buat dapat ijazah.

Balik ke kosan dari jam 10.30 WIB sampai jam 14.00 WIB buat bermalas-malasan di kasur.

 - - - - - - -

Siang menuju sore hari itu, Sarah balik ke kampus buat nyerahin jurnal. Simsalabim!

Jurnal selesai dikumpulin. Inget minta tanda tangan dosen penanggungjawab jurnal ya biar lengkap tuh lembar penebusan ijazah.

Dengan percaya dirinya langsung ke ruang tata usaha buat ngambil ijazah, gak taunya, "Neng, sidang bulan apa?"

"Juni, pak", jawab Sarah.

Bapaknya langsung respon, "Oh yang Juni mah belum ada. Belum di tanda tangan pak dekan. Kan bapak dekannya mau haji dulu".

- - - - - - -

Setelah drama pak dekan mau haji, Sarah nunggu ijazah sampai ada. Dan tau gak, ijazah Sarah baru ada bulan September setelah wisuda.

OK! No prob! Sekarang tinggal lihat aja, ijazah Sarah bisa nganter Sarah ke pekerjaan seperti apa?

Semoga sesuai yang selama ini diimpikan sih ya, semogaaaaaaa~

- - - - - - -

Sekian dan terima kasih. Sekiranya terlalu banyak yang masih perlu dipertanyakan, kolom komentar postingan ini aktif kok. Mohon maaf kalau dipertengahan sampai akhir cerita kurang greget, Sarah bingung sendiri sama cerita Sarah.

See you!
Wassalamualaikum

Selasa, 02 Juni 2015

Dasar-Dasar Pengembangan Masy. Islam: Menciptakan Masyarakat Yang Berakhlak



DASAR-DASAR PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
MENCIPTAKAN MASYARAKAT YANG BERAKHLAK
Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mandiri mata kuliah Dasar-Dasar Pengembangan Masyarakat Islam
Disusun Oleh:
Sarah Azzahra
(1144040079)
Semester II Kelas B
JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan ke hadirat Rasulullah saw yang membimbing kita menuju jalan yang diridhoi oleh-Nya.
Terima kasih kepada dosen pengampu selaku pembimbing mata kuliah Dasar-Dasar Pengembangan Masyarakat Islam yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah yang berjudul “Menciptakan Masyarakat Yang Berakhlak” ini. Dalam pembuatan makalah ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin agar dapat bermanfaat bagi para pembaca. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas wawasan mengenai Menciptakan Masyarakat Yang Berakhlak. Dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa/i Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Penulis juga mengharapkan masukan, kritik dan saran dari para pembaca. Karena penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.


Bandung, 30 April 2015

Penyusun        
 

Daftar Isi
Kata Pengantar......................................................................................................................            i
Daftar Isi         .......................................................................................................................           ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.................................................................................................................           1
B.     Rumusan Masalah............................................................................................................           2
C.     Tujuan Penulisan Makalah...............................................................................................           3
BAB II PEMBAHASAN
A.    Definisi Masyarakat.........................................................................................................           4
B.     Definisi Akhlak................................................................................................................           4
C.     Pengaruh Dekadensi Moral Dalam Hubungan Dengan Akhlak..........................................           5
D.    Menciptakan Masyarakat Yang Berakhlak.......................................................................           6
E.      Cara Yang Dapat Digunakan untuk Mencegah Berbagai Fenomena Kemaksiatan dan Tindak Kerusakan Yang Melanda Kalangan Masyarakat...............................................................................           8
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................................................         11
B.     Saran         ......................................................................................................................         12
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Globalisasi muncul sebagai pergerakkan pemikiran manusia untuk ingin mengetahui isi dunia. Secara teoretis globalisasi juga dapat dikatakan sebagai penggambaran dari teori evolusi yang telah dikemukakan oleh Darwin dengan pergerakan perkembangbiakan pertumbuhan dari hewan primata itu menjadi asal mulanya manusia.
Demikian juga dengan istilah globalisasi merupakan penggambaran dari puncak perubahan peradaban manusia yang telah menunjukkan pergerakannya. Kenyataan ini dapat diilustrasikan bahwa manusia mengalami pergerakan dalam melangsungkan kehidupannya, dimulai dari kehidupan zaman primitif dimana kehidupan bergantung pada kondisi alam. Kemudian bergerak ke zaman roda, setelah mesin ditemukan masuklah kehidupan zaman mekanik, dimana aktifitas manusia diimbangi dengan peralatan berteknologi manual. Revolusi industri dan ditemukannya teknologi elektrik dengan menggunakan kekuatan listrik sebagai sumbernya, membuat manusia terus bereksperimentasi dengan teknologi untuk menciptakan sesuatu yang baru, sampai pada akhirnya dihadapkan dengan situasi zaman modern.
Modernisasi yang dilakukan secara besar-besaran dalam dunia teknologi hingga melahirkan teknologi digital yang memungkinkan manusia masuk dalam “dunia maya” seperti sekaranag ini kita rasakan. Kenyataan ini menyatakan bahwa lahirnya teknologi terkini membuat manusia semakin mudah untuk mewujudkan ide imajinatifnya segila apapun, dengan mudah dapat terwujudkan. Sehingga persepsi tentang suatu realitas yang ada dan tiada sangat tipis bedanya. Hal ini disebabkan oleh “perkembangan teknologi informasi memungkinkan manusia hidup dalam ruang di mana mitos “ada” menjadi dunia citraan media massa” (Heidegge, 1999).
Poin menarik lainnya adalah budaya mana yang akan mendominasi peradaban budaya umat manusia. Banyak yang berpendapat bahwa budaya Barat akan mendominasi dunia, mengingat Barat mempunyai kekuatan ekonomi dan teknologi yang kuat. Akan tetapi sejak jaman dahulu hingga saat ini tidak ada satu kebudayaan pun yang dapat menghapus kebudayaan masyarakat lain. Keanekaragaman akan terus ada selagi masih ada perbedaan ideologi, sejarah, lokasi, dan pengalaman setiap individu.
Menghadapi fenomena globalisasi, umat Islam lebih dituntut menjaga dua poin yaitu, pengokohan identitas dan reaksi timbal balik dengan fenomena tersebut. Selain itu, dunia Islam juga harus menjaga persatuan dan kekompakan guna menjalin kerja sama yang erat diberbagai bidang. Tahap pengokohan identitas tersebut bukan berarti bahwa dunia islam harus menutup semua budaya asing yang masuk, namun harus lebih kolektif. Untuk poin kedua yaitu reaksi timbal balik dunia Islam terhadap globalisasi. Pada hakikatnya globalisasi adalah sarana yang baik dalam memperkenalkan budaya dan ajaran Islam ke penjuru dunia.
B.   Rumusan Masalah
1.      Apa definisi masyarakat?
2.      Apa definisi akhlak?
3.      Bagaimana pengaruh dekadensi moral dalam hubungan dengan akhlak?
4.      Bagaimana menciptakan masyarakat yang berakhlak?
5.      Apa cara yang dapat digunakan untuk mencegah berbagai fenomena kemaksiatan dan tindak kerusakan yang melanda kalangan masyarakat?
C.   Tujuan Penulisan Makalah
1.      Agar mengetahui definisi masyarakat.
2.      Agar mengetahui definisi akhlak.
3.      Agar mengetahui pengaruh dekadensi moral dalam hubungan dengan akhlak.
4.      Agar mengetahui menciptakan masyarakat yang berakhlak.
5.      Agar mengetahui cara yang dapat digunakan untuk mencegah berbagai fenomena kemaksiatan dan tindak kerusakan yang melanda kalangan masyarakat.



BAB II
PEMBAHASAN
A.   Definisi Masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.
B.   Definisi Akhlak
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Dalam keseluruhan ajaran Islam, akhlak menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting,yaitu sebagai berikut:
1.      Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai risalah pokok Islam.
2.      Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam.
C.   Pengaruh Dekadensi Moral Dalam Hubungan Dengan Akhlak
Salah satu hal yang paling dijunjung dalam masyarakt adalah akhlak. Secara kompleks akhlak senantiasa mengiringi setiap kepribadian manusia. Di mana lewat akal budinya manusia dituntut untuk bertanggung jawab terhadap perilaku akhlak itu sendiri. Namun dalam kenyatannya akhlak atau moral akhir-akhir ini cenderung lebih mengalami dekadensi.
Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi sebab munculnya dekadensi moral tersebut, di antaranya:
1.      Rendahnya rasa keimanan seseorang
Lemahnya iman merupakan pertanda dari kerendahan dan rusaknya moral, ini disebabkan karena iman merupakan kekuatan (untuk membina akhlak) dalam kehidupan seseorang.

2.      Lingkungan
Lingkungan memberikan dampak yang sangat kuat selain orang tua dan keluarga bagi perilaku seseorang.
3.      Kondisi tak terduga
Terkadang seseorang secara tak terduga mendapati kondisi yang menjadi sebab bagi berubahnya perilaku dan kehidupannya. Yang tadinya baik tiba-tiba berubah menjadi buruk, jahat, tak bermoral dan sebagainya. Di antara kondisi tak terduga tesebut adalah: Terisolasi dari lingkungan, Kaya, Emisionalitas dan lain sebagainya.
4.      Tabi’at (Watak Asli)
Ada sebagian orang yang memang memiliki tabi’at/watak asli yang buruk, rendah, suka iri dan dengki terhadap orang lain.
5.      Rumah Tangga
Jika sebuah rumah tangga penghuninya membiasakan akhlak yang baik, maka seorang anak akan ikut terbiasa juga dengan akhlak tersebut, begitu juga sebaliknya.
6.      Kekerdilan Jiwa (Rendah Diri)
Ketika jiwa seseorang kerdil maka dia tidak mampu untuk memenuhi berbagai macam hak dan kewajiban yang dibebankan kepadanya karena merasa berat dengan itu semua.
D.   Menciptakan Masyarakat Yang Berakhlak
Kita bangsa Indonesia yang mayoritas agama Islam seharusnya menjadikan akhlakul karimah sebagai tolak ukur dalam bersikap dan berperilaku di dalam Islam. Islam tidak hanya mengajarkan ilmu tauhid tentang kebenaran sang Pencipta dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Namun, Islam juga mengajarkan hubungan antar sesama manusia.
Islam mengajarkan manusia agar berakhlak Islami. Sumber hukum Islam ada dua, yaitu Al Quran dan Hadits yang bisa jadikan landasan hukum bagi seorang muslim dalam berprilaku di masyarakat. Didalam Al Quran terbagi menjadi 3 pilar utama yaitu, Akhlak, Fiqih dan Tauhid. Fiqih merupakan hukum-hukum islam yang paling sedikit dibahas dalam Alquran yaitu hanya sekitar 3% saja, selebihnya Akhlak dan Tauhid merupakan bagian yang lebih besar yaitu dengan jumlah masing-masing 48.5%. Meskipun fikih hanya 3% haruslah tetap kita jalankan agar benar-benar menjalankan Islam secara kaifiah.
Akhlakul karimah menjadi cerminan atau tolak ukur aqidah dan keimanan seseorang. Akhlak yang baik pasti dia mempunyai akidah yang baik dan punya dasar keimanan yang kuat. Akhlakul karimah merupakan lambang kualitas manusia dalam bermasyarakat, beragama, dan bernegara, karena itu akhlakul karimah pulalah yang menentukan eksistensi seorang muslim sebagai makhluk Allah swt.
Sebagian manusia mungkin kurang memperhatikan akhlakul karimah. Di satu sisi, seseorang sangat mengutamakan ketauhidan (perkara pokok atau inti agama Islam), di sisi lain, masalah kualitas Akhlakul karimahnya kurang menjadi perhatian. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang memberi penilaian terhadap orang seperti ini. Contohnya, ada seseorang yang mengerti agama tetapi masih tidak hormat kepada orangtua, ada orang yang agamanya bagus tetapi tidak peduli kepada tetangganya, dan lain-lain.
E.   Cara Yang Dapat Digunakan untuk Mencegah Berbagai Fenomena Kemaksiatan dan Tindak Kerusakan Yang Melanda Kalangan Masyarakat
1.      Pertama dan utama, adalah penanaman pendidikan agama –terutama aqidah iman, pembiasaan ibadah, dan pembudayaan akhlak mulia– di rumah oleh orang tua kepada anak ketika masih kecil hingga remaja. Jika iman sudah tertanam kokoh di dalam diri anak, memiliki syari’ah yang mendalam, memiliki akhlak terpuji, insya’Allah semua itu akan dapat menjadi benteng kokoh pula menghadapi godaan dan tantangan kehidupan apa pun dan betapa berat pun. Sebab, tidak mungkin orang tua mengawasi anaknya 24 jam sehari.
2.      Kedua, pendidikan seks dan reproduksi dengan pendekatan agama sejak anak masih kecil. Agama Islam memiliki ajaran yang sangat komplit, tidak hanya aqidah, ibadah, dan mu’amalah, melainkan juga hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, termasuk masalah reproduksi. Jika anak sejak kecil sudah memiliki iman yang kokoh, pemahaman syari’ah yang mendalam, akhlak terpuji, lalu memperoleh pengetahuan mengenai seks dan reproduksi niscaya akan membuat anak atau remaja Muslim akan berpikir seribu kali untuk melakukan perbuatan maksiat zina, bahkan akan dapat mencegah mereka ke dalam perbuatan yang mendeklati zina. Selain takut akan siksaan (adzab) Allah Swt, mereka juga takut akan akibat yang akan ditanggungnya yang sangat berat.
3.      Ketiga, pendidikan moral, etika pergaulan, budi pekerti, atau akhlak. Lembaga pendidikan formal (TK, SD hingga perguruan tinggi) berperan penting pula dalam menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak terhadap anak didiknya. Jika anak sejak bersekolah di TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi dibiasakan berperilaku dengan landasan moral atau budi pekerti luhur, maka insya’Allah mereka ajuga akan dapat membedakan mana yang mesti diperbuat, yang boleh, dan mana yang tidak benar dan buruk. Sayang sejak Kurikuilum 1975 diberlakukan, tidak ada lagi pelajaran Budi Pekerti di sekolah. Mungkin, akibat tiadanya mata pelajaran itulah antara lain masyarakat Indonesia sekarang mengalami degradasi etika, dekadensi moral, dan erosi perilaku terpuji.
4.      Keempat, pembudayaan perilaku beragama seperti membaca al-Qur’a,, al-Hadfits, buku agama, beribadah, dan beramal shalih, baik di rumah, di perjalanan, maupun di tempat umum. Di mana pun kita berada, kita harus membudayakan perilaku beragama seperti shalat, berpuasa, zakat/ infak. Denganb cara itu, insya’Allah anak kita akan biasa dengan amal shalih.
5.      Kelima, pembiasaan pengkajian agama/ajaran Islam secara mendalam melalui pengkajian al-Qur’an, al-Hadits, buku agama secara tekstual dan kontekstual. Jika mendalami agama bersama ustadz akan lebih baik diusahakan secara dialogis-interaktif agar aberbagai apermasalahan agama yang dihadapi anak dapat dijelaskan oleh ustadz secara gamblang.
6.      Keenam, perlunya meningkatkan kontrol sosial masyarakat terhadap perbuatan maksiat. Pencegahan atas perbuatan maksiat (termasuk dakwah) bukan saja tugas para ustadz, muballigh, atau da’i, melainkan juga seluruh umat Islam yang memahami ajaran Islam, termasuk warga masyareakat, baik pemuda, tokoh masyarakat, pemuka agama, maupun pejabat setempat (RT/ RW, Kepala Desa/ Lurah). Jadi, jika kita mengetahui ada saudara kita berbuat maksiat baik kriminal ataupun amoral, misalnya berzina, maka hal itu harus dilakukan tindakan tegas namun arif. Jika cara itu tidak mempan, maka barulah kita pakai cara tegas dan keras dengan sanksi sosial misalnya terhadap pelaku perbuatan maksiat.
7.      Ketujuh, kepedulian pemerintah (eksekutif), wakil rakyat (legistaif), dan penegak hukum (yudikatif). Mereka bertiga yang merupakan pemegang dan penentu kebijakan di negara kita dari tingkat daerah, provinsi, hingga pusat harus memiliki komitmen untuk melakukan pendidikan moral dan akhlak tersebut baik melalaui pendidikan formal, maupun melalui peraturan-peraturan yang mengarah pada pencegahan perilaku maksiat.
Agar mampu mencapai akhlak yang mulia, setidaknya ada beberapa cara, diantaranya:
1.      Iman adalah salah satu pondasi untuk menciptakan akhlak mulia. Jika kita selalu beriman kepada Allah dan meyakini rukun iman dalam ajaran agama Islam.
2.      Orang akan takut untuk melakukan perbuatan buruk.
3.      Al Quran sebagai dasar hukum untuk berprilaku.
4.      Hadits sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan.
5.      Mengikuti perbuatan Muhammad sebagai suri teladan
6.      Mawas diri dan introspeksi diri terhadap masa lalu
Demikianlah cara membangun bangsa Indonesia ke gerbang kemaslahatan umat. Kita harus membangun ahklakul karimah dalam berbangsa dan bernegara dengan menjadikan Muhammad sebagai suri tauladan dan ajarannya sebagai pedoman kita dalam berprilaku.



BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Pemegang kendali proses kehidupan di dunia ini adalah manusia, di mana dalam interaksinya, manusia relatif memerlukan faktor pendukung internal yang lebih urgen. Di sini akhlak memainkan peranan vital dan lebih persuasif. Untuk itu, dalam merevitalisasi akhlak tersebut agar lebih dinamis dan beradab, manusia secara kodrati di karuniai akal sehat dan budi perkerti, sebagai lokomotif yang mengantarkan manusia kearah sosialisasi beradab. Namun dalam kenyataannya budi pekerti tadi tidak sepenuhnya berjalan sesuai kaidah-kaidah alamiah itu sendiri. Hal ini bisa dilihat gari munculnya fenomena dekadensi moral akhir-akhir ini yang lebih ditunjukkan lewat:
1.      Perkembangan Teknologi
2.      Perilaku Menyimpang
3.      Teori Perilaku Menyimpang
Sementara itu, banyak faktor yang mempengarhui problematika di atas, di antaranya:
1.      Rendahnya rasa keimanan seseorang
2.      Lingkungan
3.      Kondisi tak Terduga
4.      Tabi’at (Watak Asli)
5.      Rumah Tangga
6.      Kekerdilan Jiwa (Rendah Diri)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi kecenderungan dehumanisasi tersebut adalah:
1.      Mengenal Potensi Anak
2.      Pendidikan Agama
3.      Validasi Pendidikan Nilai
B.   Saran
Mobilisasi teknologi dalam era modernisasi sangat rawan pengaruhnya terhadap akhlak masyarakat. Untuk itu sejak dini perlu ditanamkan pendidikan moral dan spiritual yang sekiranya bisa memberikan semacam pencerahan terhadap relevansi antara akal budi, rasio dan nurani mereka. Di sini peran orang tua, keluarga, lingkungan dan pendidikan formal sangat diharapkan membawa pengaruh positif buat kelangsungan interaksi kepribadian tersebut.

 
DAFTAR PUSTAKA
http://masdananang.co.cc/?p=23)
http://rezaantonius.multiply.com/journal/item/76
http://bataviase.co.id/node/23303)
Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu Untuk SMP/MTs. Swadaya Murni: Jakarta.
Umasih, dkk. 2007. IPS Terpadu untuk SMP Kelas VIII. Ganeca Exact.