Minggu, 29 Mei 2016

Teruntuk Pembaca Setia Blog Saraphaaan

Assalamu'alaikum
Masih inget, Sarah? Harus inget dong! Oke itu maksa.

Buat pembaca setia blog saraphaaan, terima kasih. Terima kasih masih mau setia walaupun udah lama banget gak ada post dari Sarah.

Bukan sengaja gak ngepost kok, ini persoalan bagi waktu yang...anggap aja gagal dan belom terbagi dengan baik. Ceritain aja ya kenapa Sarah lama gak ngepost di blog. Siapa tau masih ada pintu maaf yang terbuka lebar buat maafin Sarah. Siapa tau.

Jadi...mulai darimana? Dari tugas kuliah yang bejibun? Banyak? Gak berhenti-berhenti? Boleh.

Tugas kuliah. Kalau gak salah, berarti bener yakan, Sarah pernah ngepost tentang muaknya tugas kuliah yang jumlahnya banyak. Entah bener atau gak, lupa lagi. Semester empat kemarin, beuh! Tugas kuliah itu kaya sayang Sarah buat mama, makin hari makin nambah terus, kagak ada minusnya. Beres yang satu mata kuliah, nambah dari tiga mata kuliah lain. Hari libur aja (libur kuliah maksudnya) mau gak mau, ya bolak balik perpus, perpus kampus atau perpus bapus Jabar.

Apalagi? Ya tugas yang plus sama penelitian. Nambah pengalaman sih, tapi...ya tolong ngerti coba kagetnya anak rantau jauh dari mama, papa, keluarga lainnya, ngedadak disuruh muter sana sini di kota rantauannya. Udah kaya anak ilang, untung aja kagak ilang beneran.

Oke cukup ngebahas tugas kuliah yang akhirnyaaa...beres bray! Eh tapi, sayang Sarah buat mama masih terus ada kok, gak ada beresnya.

Alasan kedua Sarah jarang ngepost itu...handphone dan notebook lagi butuh kasih sayang lebih. Kaya Sarahnya. Eh canda deh, serius juga boleh sih. HAHA.

Entah ada apa dengan dua gadget pendukung Sarah di dunia penulisan. Mereka kolaborasi bikin Sarah sedikit putus asa. Ya mungkin dengan gadget itu manja, Sarah jadi lebih akrab kan tuh sama keluarga dan tentunya sahabat di dunia nyata, bukan dunia maya. Walaupun gak bisa dipungkiri, Sarah bosan dengan rutinitas yang dilalui tanpa gadget, sama bosannya dengan status single. Eh kok curhat?

Emang sih, gadget rusak juga masih ada handphone mama dan notebook lama yang kondisinya...Alhamdulillah masih bisa nyala juga dan ngebantu nyelesaiin tugas kuliah. Gak perlu diceritain lah kalau Sarah muter sana sini ke servis center handphone sama notebook, cukup ucapan terima kasih tak terhingga buat yang udah mau nganter Sarah ke sana kemarinya.

Dan, alasan terakhir yang bikin Sarah jarang ngepost...Sarah lagi coba ikut event nulis sana sini. Event cerpen sih prioritasnya. Alhamdulillah, udah ada dua cerpen yang terpilih membawa nama Sarah Azzahra menjadi kontributor terpilih dalam penerbitan buku. Do'ain aja selanjutnya bisa jadi pemenangnya ya, biar sekalian menangin hati kamu juga. Loh?

InsyaAllah nanti Sarah update buku yang ada karya cerpen Sarah diisinya. Yang mudah-mudahan nantinya menyusul, terbit buku hasil karya Sarah sendiri, aamiin.

Cukup ya ceritanya. Dimaafin kan nih? Maafin atuh lah, kan sekalian maaf lahir batin mau bulan Ramadhan. Yayayaaa? Kalau emang masih kangen Sarah (pede amat) atau mau sekedar curhat, Sarah insyaAllah bisa nemenin kok via line. ID-nya? Waktu itu pernah di share kok, cari tahu aja sendiri di post Sarah yang sebelumnya. Oke?
Wassalamu'alaikum.

Selasa, 29 Maret 2016

Anak Rantau dan Mama

Ma...mungkin aku terlalu menyia-nyiakan waktu kebersamaan dengan keluarga ketika aku kembali ke rumah.

Ma...mungkin aku masih terlalu cuek dengan keadaan di rumah.

Ma...kata orang hidup merantau itu harus punya kesiapan mental. Siap dalam hal hidup di kota orang yang mungkin tidak ada sanak saudara.

Ma...kata orang hidup merantau itu harus punya ketegehuan iman. Teguh dalam hal pergaulan yang arahnya kadang bisa berubah dalam setiap detiknya.

Ma...kata orang hidup merantau itu harus punya keinginan lebih baik. Ingin dalam hal menjalani kehidupan diperantauan dengan ikhlas dan sabar hingga terjemput kata sukses dalam kehidupan.

Tapi ternyata ma...merantau itu perlu waktu dan keyakinan sendiri untuk dapat bertahan tanpa tangisan dalam pelukan mama.

Andai ma...aku seperti teman-temanku yang lain yang tidak hidup merantau, yang hidup selalu berdampingan dengan mama, yang jika lelah dapat mengadu pada mama, yang jika tiba disambut hangat senyum sapa mama dan jika sakit ada kasih sayang spesial dari mama untuk kesembuhan sang anak lebih cepat.

Doakan aku ma...doakan agar anakmu mampu mengganti kasih sayangmu dengan senyum bahagia diwajahmu ketika aku mampu berhasil menjemput suksesku.

Bukan tentang rindu, ini perihal hidupku dengan segala keluh kesahku yang jauh darimu...mamaku.

Selasa, 15 Maret 2016

Butuh Waktu Untuk Berteriak

Berteriak jika kamu masih mampu berteriak. Bukan sekedar teriakan dengan bunyi "Aaaaa" dan suasana yang sepi diatas bukit sana. Berteriak karena saat ini dengan bisikan ucapanmu selalu diabaikan oleh mereka yang memiliki kewenangan.

Berteriak sebagai wujud berontak? Bukan. Ini berteriak karena kamu butuh dianggap tampak hingga dadamu tidak lagi terasa sesak. Aku tau, aku ngerti dan aku paham kalau kamu muak dengan keadaan yang mendesak dan hadir secara mendadak. Maka dari itu, kamu perlu berteriak.

Kalau kamu tanya apa aku sudah mampu berteriak atas segala keadaan yang mendesak dan hadir secara mendadak hingga membuatku muak dan merasa dadaku sesak, maka jawabanku adalah "aku belum mampu".

Bukan tidak mungkin aku berteriak, aku hanya belum merasa sangat muak dengan keadaan yang kadang menuntutku untuk tidak berlaku seperti anak-anak. Karena aku, terbiasa menyembunyikan muak hingga akhirnya berhasil berteriak ketika keadaan membuatku sangat muak.

Jika saat ini ada waktu untuk aku dan kamu berteriak, mungkin ini adalah media untuk kita berdua. Jika saat ini aku mampu mewakili kamu berteriak, aku siap. Karena yang aku tau tentang kamu; bahwa kamu merasa terdesak dengan banyak tugas kuliah yang hadir secara mendadak, hingga membuatmu muak karena kamu merasa kehilangan waktu untuk menulis dan merasa sesak karena kamu tidak mampu menyampaikan teriakanmu ke dalam semua tulisanmu.