Sabtu, 01 September 2018

Ngupas Isi Buku I am Sarahza - Chapter 2

Assalamualaikum

Dalam keadaan setengah sadar dan merasa berdosa, Sarah coba posting lanjutan ngupas isi buku I am Sarahza.

Gara-gara males sih ini, jadi gini. Bikin janji bakal posting lanjutan ngupas isi buku, tapi malah kepikiran buat posting yang lain. Padahal baca si dia juga udah beres dari minggu lalu, parah duh!

Lanjutan ngupas isi bukunya dibikin singkat aja ya. Karena secara keseluruhan, dia tuh emang menarik! Asli cuy!

Gak beda jauh kok perasaan Sarah pas lanjutin baca dia sampai beres, sampai tau juga Sarahza itu siapa. Perasaan gelisah gak usai-usai pokoknya. Bikin imajinasi Sarah hidup. Jadi bikin film sendiri gitu versi imajinasi Sarah hahaha.

- - - - - - -

Daripada gak kelar-kelar dah ya janji Sarah buat lanjut ngupas isi buku, langsung menuju ke data isi bukunya aja yuk!

Data Isi Buku

Judul: I am Sarahza, Di Mana ada Harapan, Di Situ ada Kehidupan

Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Editor: Iqbal Santosa

Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta

Tahun Terbit: 2018

Jumlah Halaman: vi + 370 halaman

- - - - - - -

Sekian dan terima kasih rekan-rekan pembaca sudah sabar menanti lanjutan ngupas isi buku dari Sarah. Kalau kedepannya pengen sesuatu yang beda hadir di blog Sarah, sarannya boleh disimpan kok di kolom komentar. Kolomnya tuh ada di bawah postingan ini.

See you!
Wassalamualaikum

Selasa, 21 Agustus 2018

Ngupas Isi Buku I am Sarahza - Chapter 1

Assalamualaikum

I'M BACK!!! HA HA HA

Iya bau iya, maaf dah. Sarah cuma gak ngerti lagi kok bisa ada buku yang isinya luar biasa. Apa sih yang bikin luar biasa?

Bentar, santai dulu. Pelan-pelan Sarah jelasinnya ya.

Biar gak rumit, postingan sekarang Sarah coba ngasih resensi buku yang hampir selesai Sarah baca. Berhubung Sarah orangnya gampang lupa dan banyak faktor lain yang bikin Sarah belom bisa selesai baca ini buku, jadi nyicil deh ngasih resensinya. Dan satu lagi, biar akrab di mata pembaca juga, Sarah ganti bahasa resensi jadi ngupas isi buku.

Kalau biasanya ngupas isi buku nampilin data diri si buku, Sarah juga mau nampilin dong dipostingan Sarah. Tapi gak sekarang ya muehehe.

Ya walaupun, kayanya sudah banyak rekan-rekan pembaca juga yang tau kalau buku yang Sarah kupas ini jadi salah buku Best Seller. Jujur hayo jujur, right (baca: benar) kan kalau rekan-rekan pembaca sudah tau Sarah mau ngupas isi buku apa?

Kebanyakan basa basinya nih, mulai aja dah yuk. Mulai apaan? Mulai jalin hubungan yang serius aja, boleh? Heh ngaco! Bukan itu, mulai ngupas isi buku I am Sarahza maksudnya hahaha.

Gini loh, awalnya ketemu nih buku sebenarnya sudah berbulan-bulan lalu pas lagi nyusun skripsi. Tapi karena harganya belom cocok di kantong Sarah sebagai mahasiswa dan emang lagi males juga nyari bacaan yang "berat" (berat karena waktu itu posisi Sarah lagi nyusun skripsi dan harus ngejalanin beberapa rangkaian sidang juga, oke ini alesan aja sebenarnya), maka dari itu ditunda lah beli nih buku. Malah gak kepikiran juga sih milikin dia, walaupun tertarik banget sama judulnya. Berasa tuh buku nyeritain Sarah banget, padahal gak sama sekali. Sumpah!

Setelah berkali-kali dipertemukan sama dia (si buku I am Sarahza) di beberapa toko buku dan belom juga dibeli, malem minggu kemarin tanggal 18 08 2018, akhirnya Sarah berhasil milikin dia. Berhasil memilikinya dengan suntikan dana dari Om dan Tante yang ngajak jalan-jalan ponakannya yang sekarang berstatus sebagai job hunter. Thx!

Eh iya, ada drama juga loh sebelum berhasil milikin dia. Jadi, sebelum bener-bener memilih dia buat dibayar dan kemudian dia jadi milik Sarah seutuhnya, Sarah berusaha menjemput yang lain (nyari judul buku lain yang emang lagi Sarah incer buat dibeli maksudnya) biar ada digenggaman tangan Sarah. Ternyata eh ternyata, yang dicari gak ada di lokasi. Muter-muter lagi sampai berhasil memilih yang lain, lagi (maksudnya memilih buku dengan judul berbeda dari yang sedang diincer buat dibeli). 

Sepersekian detik saat sudah ngantri di kasir buat bayar yang lain, Sarah ngerasa masih pengen muter-muter di toko buku itu. Dan muter-muternya Sarah berhenti di deretan buku-buku best seller, yang sebenernya Sarah anti beli buku-buku best seller karena udah terlalu banyak orang ngutip isi bukunya. Tapi disitu tuh Sarah dipertemukan kembali dengan wujud yang Sarah rasa nyeritain Sarah banget, padahal gak sama sekali (ini salah satu contoh bagian pengulangan ya). Sesederhana itu ternyata milikin dia digenggaman Sarah, iya gak? Hahaha.

Berhasil dimiliki tuh dia, tapi Sarah masih hanyut sama drama korea yang nyeritain detektif dan para penjahat hingga diabaikan lah dia sampai tanggal 20 08 2018, dua hari menjelang hari raya Idul Adha.

- - - - - - -

Sarah emang suka nulis, tapi buta sama penulis-penulis di Indonesia, penulis-penulis dunia juga sama butanya sih. Kalau emang tau namanya, ya sekedar tau, gak lebih. Parah kan!

Nah berawal dari dia ini, Sarah dibawa hanyut sama fakta tentang penulis-penulisnya. Pas beli, Sarah bener-bener gak tau penulis dia tuh siapa sampai bisa nuntun dia ada di deretan rak buku best seller. Eh ternyata fakta pertama yang terungkap adalah salah satu penulisnya itu anak politisi di Indonesia. Sedangkan penulis lainnya adalah menantu dari politisi tersebut. Tercengang akutu! Suami - istri bisa nulis bareng, salah satu impian Sarah itu sih hahaha.

Baru aja beres bergumam, "Wah keren!". Eh dikasih kejutan lanjutan. Bukan kado yang isinya boneka minion kejutannya, tapi fakta lain yang menjelaskan kalau ternyata penulis-penulis dia, juga menjadi penulis dari kisah 99 Cahaya di Langit Eropa. Yang pada kenyataannya, Sarah belum pernah sama sekali baca buku itu karena sudah terlanjur nonton filmnya duluan. Bahkan setelah berhasil kepincut sama filmnya, Sarah belum pernah lirik-lirik siapa nama penulisnya walaupun sempat beberapa kali juga dipertemukan wujud bukunya. Parah kan!

Selepas disuguhkan fakta-fakta itu, Sarah mencoba hanyut sama alur cerita yang ditaburkan dengan beragam sudut pandang atau pembagian cerita yang di kombinasi antara part Hanum, part Rangga dan part Sarahza. Kombinasi sudut pandang ini nih bikin dia sempurna dari sudut pandang mana pun!

Selain itu gampang banget ngikutin alur cerita dia, terlebih hampir keseluruhan mengisahkan perjuangan, harapan dan kepasrahan pada Tuhan.

Beberapa bagian emang belum pernah Sarah rasain sih, tapi dari alur yang rinci dan sudut pandang yang di kombinasi itu, Sarah berhasil memvisualisasi dia dalam imaji Sarah. Contohnya pas dia mengisahkan perjuangan inseminasi dan program bayi tabung para penulisnya.

Selanjutnya alur cerita seimbang gitu antara logika dan agama. Karena jujur aja, Sarah masih perlu banyak belajar jadi penulis yang bisa seimbang merajut kata-kata untuk menjelaskan antara logika dan agama secara berdampingan. Salah satu impian juga sih bisa dakwah melalui tulisan.

Poin paling menentramkan dari dia yaitu kisah nyata tapi dikemas jadi novel dewasa yang pemilihan katanya bikin Sarah terus-terusan gelisah, "Kok bisa gini sih ceritanya?". Dari gelisah itu tuh, Sarah sampai beberapa kali ganti posisi duduk - tiduran - duduk - tiduran. Sumpah, bikin merinding gitu tiap baca kata per katanya.

Maaf jadi berlebihan gini ya kayanya Sarah, efek samping terlalu banyak pujian yang gak bisa diungkapkan buat dia.

Eh tapi, satu nih yang sejauh ini bikin Sarah ngerasa terganggu sama alur cerita dia yaitu ada pilihan kata yang gak terjangkau sama Sarah. Maksudnya, ada beberapa kata yang bikin Sarah harus buka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dulu biar ngerti sama makna kata tersebut.

Selebihnya, selain pilihan kata yang gak terjangkau sama Sarah, sejauh yang sudah Sarah baca isi bukunya, luar biasa! Mudah-mudahan ada rejekinnya buat beli buku 99 Cahaya di Langit Eropa dan kawan-kawannya yang juga ditulis oleh penulis dia, karena terlanjur gila sama alur ceritanya. Jiwa penulis Sarah lagi haus karya-karya yang luar biasa kaya dia.

- - - - - - -

Kalau rekan-rekan pembaca ada yang bertanya-tanya, emang mau dibikin berapa chapter sih? Jawaban Sarah, mudah-mudah dua juga sudah cukup. Ini dibikin chapter 1 karena Sarah mengupas isi bukunya baru sebagian aja, ada kayanya separo dari isi buku.

Dan dari banyaknya kata-kata yang sudah Sarah baca, ada rasa tertarik buat ngutip kata-kata di halaman 84 part Sarahza, "Baiklah. Kegagalan memang tak ada gunanya diratapi. Kegagalan lebih menyenangkan untuk dicandai".

Jika bisa ditambah, Sarah ingin menambahkan part Sarahza dengan rangkaian kata, "Dan Sarah masih mencari sosok seseorang yang bisa merayakan kegagalan untuk dicandai karena tak selamanya hidup dalam kebersamaan berjalan sesuai yang diimpikan". Lah curhat, Sar? Hahaha.

Cukup sekian ngupas isi buku chapter 1 nya. Sarah lanjut baca dulu isi bukunya ya, biar bisa lanjut ngupas isi buku ke chapter 2. Dan semoga cukup di chapter 2 buat ngupas semua isinya, kalau emang Sarah selesai baca bukunya.

See you!
Wassalamualaikum

Selasa, 10 Juli 2018

Mahasiswa Tingkat Akhir - Cakrawala Didieuland

Assalamualaikum

Hai hai halo, udah lama yakan gak baca update Sarah di blog? Rindu atau tidak rindu? Sttt! Tau kok, pasti rindu sama ketidakjelasan kisah-kisah Sarah di blog hahaha.

Yowes yowes. Duduk gih, siapin kopi atau teh hangatnya. Karena kisah sekarang, direncanakan kisah balas dendam setelah lima bulan gak update.

Gak punya kopi atau teh? Yaudah beli apa kek. Jajan ke warung depan tuh, ya kalau gak warung depan, warung depan sekolah aja. Kejauhan? Yaudah diem-diem bae dah! Hahaha.

Kebanyakan basa basi ah. Mending langsung lanjut yuk ke kisah yang aslinya, mau kepo? Mau kepo? Mau kepo? Pasti mau! Gak mau juga yaudah gak apa-apa:(

- - - - - - -

Kisah ini di Bandung. Bukan kisah Dilan sama Milea tapi ya. Ini kisah Sarah sama "orang yang demen jalan". Siapa orangnya?

Jeng . . . Jeng . . . Jeng . . . Jeng


Itu dia orangnya; Salsabila Firdausia, panggil aja Sasa. Asli produk Cimahi. Kurang lebih hampir empat tahun kebelakang jadi korban pelampiasan jailnya Sarah dan sampai sekarang masih jadi korban sih muehehe.

Kisah ini tuh disponsori oleh lelah dengan rutinitas kuliah, eh tapi gak juga sih hahaha. Sejujurnya rencana awalnya emang mau hari Rabu jalan-jalannya. Berhubung mahasiswa tingkat akhir gak terlepas dari bimbingan dan ngejar-ngejar dosen pembimbing, gagal saja lah jalan-jalan di hari Rabu.

Ternyata Tuhan yang Maha Baik mengizinkan Sarah dan Sasa pergi. Bersyukur banget satu hari itu Tuhan mendukung kita pergi jauh; ya walaupun sejauh-jauhnya Sarah sama Sasa pergi ya di Bandung.

Padahal nih biasanya memasuki waktu shalat Dzuhur mulai pindah zona basah, sedangkan di hari Kamis tanggal 08 Februari 2018 Tuhan menjaga zona kering tetap kering. Eh gak deh, sempat gerimis lucu gitu datang berkunjung. Gak usah nanya gerimis lucu kaya gimana, karena gerimisnya gak lebih lucu dari Sarah hahaha.

Gimana, udah mulai kepo belum Sarah mau mengisahkan apa?

Dari judul, masa iya gak kepo?

Dari pembukaan yang banyak basa basinya, masa iya belum kepo juga?

Gak kepo sih gak apa-apa kok, cuma paling gak bisa berhenti baca update blog Sarah yang sekarang.

Tuh kan, masih baca juga.

Ketauan deh! Hahaha.

- - - - - - -

Nah rekan-rekan pembaca yang mulai kepo, udah pada tau kan ya ini mau nyeritain Bandung. Biar lebih jelasnya, Sarah mau ajak rekan-rekan pembaca ke Kawasan Wisata Punclut.

Sepengatahuan Sarah, di Kawasan Wisata Punclut yang awal ramai diperbincangkan publik, khususnya anak-anak zaman sekarang, yaitu Lereng Anteng. Tapi itu dulu, sekarang sih beragam pilihan buat nongkrong di Kawasan Wisata Punclut.

Karena beragam, Sarah dan Sasa menentukan pilihan nongkrong di Cakrawala dan Didieuland. Gak ditentuin juga sih, entah kenapa penasaran aja sama tempatnya. Iya gak, Sa? Hahaha.

Oh iya, FYI nih ya, update blog yang sekarang, Sarah dibantu Sasa buat ngelengkapin kisah Cakrawala Didieuland.

- - - - - - -

Sampai di Kawasan Wisata Punclut pas waktu Dzuhur, kalau gak salah. Langsung teringat lah, pertama dan terakhir ke tempat itu sama teman-teman KKN; Essence 233. Flashback on gitu. Apalagi pas mau foto bareng tapi lupa bawa tripod, akhirnya kita pilih tempat sampah yang berubah fungsi jadi tripod. Skip, flashback off.

Berhubung Sarah gak apal-apal banget jalanan di Bandung. Kisah ini tidak didukung dengan maps ya, apalagi petunjuk arah belok mana, atau lewat jalan mana, karena sebagai penumpang yang baik Sarah tinggal duduk aja. Kadang iseng sih tapi kalau mulai bosen duduk doang; contohnya "ngaduin" helm yang dipakai Sarah ke helm yang dipakai Sasa.

Oh iya, kisah ini juga gak didukung estimasi waktu ya. Karena Sarah lupa berangkat jam berapa, tiba-tiba sampai aja di TKP setelah melalui perjalanan yang cukup bikin ngantuk.

Setelah ada masa-masa flashback Sarah, langkah kaki mulai menuju Cakrawala. Nah itu tuh tempat makan, sebut saja cafe, yang sejauh mata memandang keliatan ijo-ijo; ya pohon-pohonan dan kawan-kawannya, bikin mata segar.

Tapi, bukannya langsung makan malah keluar lagi dari cafe tersebut. Pindah ke tempat nongkrong lain, yang kali ini namanya Didieuland.

Nah kalau mau masuk Didieuland, pakai tiket ya. Harganya Rp 10.000 untuk satu pengunjung. Itu harga weekday yak. Nih foto tiketnya


Setelah beli tiket, mulai lah diakses segala penjuru Didieuland. Yang menarik, yang bikin penasaran, yang baru sekali-kalinya Sarah lihat, ada ayunan gede bisa buat tiduran gitu. Maafin Sarah norak!:(

Anggap surga dunia lah yaaa, bisa tiduran sambil memandang yang ijo-ijo.

Kepo ayunannya segede apa? Nih ada foto sama pas diayunan.



Pesan aja sih ini dari Sarah, kalau mau diayunan itu jangan kelamaan diputerinnya. Karena berdampak pada pusing dan mual, apalagi kalau belum diisi makan dari pagi. Korbannya ya itu, yang ada di foto. Penyebabnya ya karena siapa lagi kalau bukan karena Sarah muehehe.

Selama bereksplor ria di Didieuland dan perut masih tetap kosong karena belum makan nasi, banyak banget tempat yang bisa dijadiin tempat foto-foto. Rekomendasi buat para pengguna instagram yang mau hunting.

Karena pada dasarnya tempat nongkrong, maka dari itu Didieuland gak terlepas sama yang jualan makanan dan minuman. Yang review minumannya enak atau B aja (baca: biasa aja) biar Sasa ya. Cuma, nih ada foto minumannya kok.


Kenapa review minumannya aja? Karena Sarah sama Sasa gak jajan makanan disana. Sengaja, biar bisa ngerasain tempat nongkrong yang lain. Sekaligus, hemat sih.

Ya daripada jajan makanan dua kali, belum tentu dua kali jajan itu habis makanannya. Mending yakan dibagi dua, satu tempat buat hunting foto sekalian beli minuman, satu tempat lagi buat beli makanan; tetap aja, sekalian hunting foto hahaha.

Kenyang foto-foto di Didieuland, perut mulai lapar maksimal. Kepo sama foto-foto di Didieuland? Sarah kasih dah foto-fotonya.







Udah cukup ya. Ntar kalau kebanyakan malah naksir sama yang ada di foto. Atau jangan-jangan udah pada naksir?

Cie ketauan lagi kan! Hahaha.

- - - - - - -

Lanjut keponya?

Yuk dilanjut yuk!

Lanjut ke Cakrawala setelah mabok foto-foto di Didieuland. Nah di Cakrawala ini nih, kursi-kursinya ada yang warna orange; kan lucu. Tujuan utama kesini sih, makan nasi. Tujuan selanjutnya, ya foto-foto dong hahaha.

Kalau ke Cakrawala, karena emang konsepnya cafe, gak perlu tiket masuk kok. Jadi tinggal bilang ke pelayan, mau tempat duduk yang kaya gimana, nanti dianter deh sama pelayannya.

Contohnya kaya Sarah, mau tempat duduk yang ada colokannya. Sama pelayanan disuguhkan lah tempat duduk dekat dengan colokan.

Setelah dapat tempat duduk, ya pulang. Gak deh hahaha.

Setelah dapat tempat duduk, mulai bolak balik daftar menu. Dapat yang ingin dimakan, pesan ke pelayan dan menunggu pesanan tiba.

Rencana update kali ini, Sarah mau coba jadi blogger yang ngereview tempat wisata. Karena ngerasa gak sanggup menyelesaikan sendiri, Sarah minta tolong Sasa buat ngasih nilai, yang bikin rekan-rekan pembaca perlu datang ke Kawasan Wisata Punclut, khususnya Cakrawala dan Didieuland.

Jangan heran kalau pesanan makanan Sarah dan Sasa di Cakrawala emang B banget (baca: biasa banget). Apalagi jumlah makanannya dikit. Antara hemat dan gak bisa makan banyak itu beda-beda tipis muehehe.

- - - - - - -

Terlepas dari jumlah makanan dan minuman yang dipesan, sekarang giliran Sasa yang ngasih nilai. Dari segi tempat, suasana atau segalanya dah ya. Ya apapun itu yang ada di Cakrawala dan Didieuland lah intinya. Mariiii~

(Part Sasa)
Yaaa, Sasa tuh orangnya suka banget yang namanya kuliner, udah lah cukup segitu aja. Lanjut review tempatnya, untuk Didieuland konsepnya sih tempat makan tapi suasananya aja yang bikin beda. Suasananya ngingetin ke tempat permainan yang lebih ke arah tempat outbond gitu, unik pokoknya mah. Selain itu untuk makanannya kaya bentuk food court karena pilihannya yang beragam dan disebar di beberapa spot yang berbeda. Sayangnya pas kesana masih ada beberapa tempat yang lagi renovasi, padahal cocok buat bawa anak-anak apalagi sambil rekreasi. Kepuasan mengunjungi Didieuland dengan segala kelebihannya Sasa ngasih nilai delapan.

Kalau untuk Cakrawala tempatnya oke buat nongkrong, bagus tempatnya, suka! Harga keseluruhan menunya harga standar cafe lah, gak murah, gak mahal juga. Sesuai dengan harga, makanan yang dipesan itu rasanya pas, untuk minuman juga oke lah. Kalau untuk dessert, enak! Porsi banyak, harganya termasuk murah, gak mengecewakan! Dan nilai kepuasan berkunjung ke Cakrawala, Sasa ngasih nilai delapan juga.


Pesan dari Sasa:
Buat yang suka main dan nongkrong-nongkrong cantik, bisa dateng aja ke Cakrawala atau kalau mau suasana yang berbeda bisa ke Didieuland yang ada di Kawasan Wisata Punclut

- - - - - - -

Gimana? Puas belum? Puas aja dong.

Kalau belum puas, langsung ke Kawasan Wisata Punclut aja. Rekomendasi pokoknya buat yang mau pergi sama keluarga, sahabat, pacar, hem pacar jangan deh, nanti kalau putus malah tinggal kenangan aja, kan gak asyik. Eh tapi bebas deh, pergi sama siapa aja, asal bikin nyaman.

Mau pergi sama Sarah? Oh boleh tentu saja, dengan senang hati hahaha. Ngarep ah Sarah.

Sejujurnya, tulisan ini udah ngedraft di akun blog Sarah dari bulan Februari lalu, dari jaman-jamannya Sarah masih jadi mahasiswa tingkat akhir. Sekarang sih, Alhamdulillah sudah lepas dari label mahasiswa. Mau tau ceritanya gimana?

Segera update nanti jika benar-benar sudah berakhir, yang mungkin jadi update terakhir juga di tema "Mahasiswa Tingkat Akhir".

- - - - - - -

Untuk rekan-rekan pembaca; Terima kasih udah ngeluangin waktu buat baca. Jangan bosen-bosen baca, apalagi bosen nunggu bacaan dari Sarah yang jarang (banget) update dengan cerita-cerita baru.

Untuk Sasa; Terima kasih udah ngajak jalan-jalan dan bantu memberikan ulasan. Jangan bosen-bosen ngajak Sarah jalan-jalan lagi, BTW, Bandung masih luas ya, Sa?:p

Itu kode hahaha.

Untuk Tuhanku; Terima kasih mengizinkan Sarah pergi bersama Sasa yang dilalui dengan selamat dan aman dijalan selama hari Kamis pada 08 Februari 2018. Jangan bosen-bosen memberikan Sarah nikmat di dunia, bahkan Sarah harap bisa dapat nikmat akhirat juga. Aamiin.

Sampai jumpa di update selanjutnya.

Dadah rekan-rekan pembaca.

Wassalamualaikum